BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada
dekade terakhir perhatian dan penelitian dalam bidang sel punca (stem cells)
mengalami kemajuan yang amat pesat. Para peneliti menggunakan sel punca untuk
mengetahui dan mempelajari proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan tubuh
manusia serta patogenesis penyakit-penyakit yang diderita. Disamping itu,
potensi sel punca juga menimbulkan harapan baru dalam pengobatan, khususnya
penyakit degeneratif seperti Parkinson maupun kelainan seperti trauma, keganasan
dan sebagainya.
Perkembangan ilmu dan teknologi bidang
kesehatan yang maju pesat maka dikembangkanlah Sel Punca, sedangkan yang
dimaksud Sel Punca adalah sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa
memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri (self regenerate/self renewal)
dan mampu berdiferensiasi menjadi sel
lain (differentiate). Kegunaan Sel Punca bagi umat manusia untuk masa yang akan
datang sangat menjanjikan karena dapat menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan melalui upaya transplantasi dan terapi.
Pemanfaatan sel punca (stem cell) untuk
terapi pengobatan terus berkembang
pesat. Sejak digunakan di dunia kedokteran pada era 1950-an, sel punca kini dapat digunakan menjadi salah satu
jenis terapi modern yang memberi harapan kesembuhan untuk berbagai jenis
penyakit kronis. Sel punca ini dapat dikembangkan dari sel embrionik yang
diambil dari embrio bayi atau dari sel dewasa, seperti sumsum tulang, darah
tepi, dan tali pusat bayi baru lahir. Perlakuan
dengan sel punca dibagi menjadi dua, yaitu terapi dan transplantasi. Pada
proses terapi, sel punca hanya disuntikkan ke jaringan atau organ target dengan
tujuan memperbaiki bagian yang rusak.
Penggunaan sel punca untuk terapi telah
dilakukan di banyak negara termasuk di antaranya China. Bahkan, di wilayah
berpenduduk satu milyar lebih itu, terapi sel punca sudah menjadi salah satu
layanan medis yang ditawarkan di rumah sakit. Fenomena ini agak berbeda dengan
negara lain yang belum menempatkan terapi sel punca sebagai layanan medis. Di
beberapa negara termasuk di Indonesia, pengobatan menggunakan terapi sel punca
masih terbatas dalam skala penelitian. Peraturan mengenai terapi sel punca pun
cukup ketat, mengingat faktor keamanan serta problem etika.
Penyakit Parkinson adalah penyakit
neurodegeneratif yang paling lazim setelah penyakit Alzheimer, dengan insidens
di Inggris kira-kira 20/100.000 dan prevalensinya 100-160/100.000.
Prevalensinya kira-kira 1 % pada umur 65 tahun dan meningkat 4-5% pada usia 85
tahun.
Pengobatan
penyakit Parkinson saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan
memperlambat progresivitas penyakit. Tetapi selain gangguan motorik, penyakit
Parkinson juga mengakibatkan gejala non
motorik seperti depresi dan penurunan kognitif, disamping terdapat efek terapi
obat jangka panjang. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas hidup
penderita penyakit Parkinson. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai
tujuan pengobatan.
Bahkan
para ahli menyatakan bahwa Stem Cell Therapy merupakan terapi terbaik untuk
mengatasi penyakit degeneratif ini. Terapi sel hidup memiliki efek jangka
panjang karena terapi sel mampu menstimulasi kemampuan tubuh untuk meregenerasi
sel-sel dan melakukan penyembuhan terhadap diri sendiri serta memperkuat proses
penyembuhan. Terapi sel hidup juga digunakan hampir di seluruh peradaban dan
budaya semenjak manusia dilahirkan. Dengan mengkonsumsi sel hidup, baik manusia
maupun hewan akan memperoleh manfaat fisik. Semua terapi ini dirancang untuk
meningkatkan jumlah dopamin di otak baik dengan mengganti dopamin, meniru
dopamin, atau memperpanjang efek dopamin dengan menghambat kerusakan tersebut.
Penelitian telah menunjukkan bahwa terapi awal pada tahap non-motor dapat
menunda timbulnya gejala motor, sehingga memperpanjang kualitas hidup.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
1.
Sel Punca
a. Pengertian Sel Punca
Sel punca adalah sel yang belum
berdiferensiasi yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi satu dari
sekitar 200 jenis sel di dalam tubuh, meliputi sel darah, sel saraf, sel otot,
dan sel kulit. Sebagian sel punca dapat dipicu untuk berkembang menjadi sel
jenis apa pun di dalam tubuh. Sel-sel punca lainnya telah berdiferensiasi
sebagian sehingga hanya dapat berkembang menjadi suatu jenis sel tertentu saja,
misalnya sel saraf. Sel-sel punca membelah, menghasilkan lebih banyak sel-sel
punca, sampai kemudian sel-sel ini dipicu untuk berkembang menjadi suatu sel
yang lebih spesifik. Sel-sel ini akan terus membelah, menjadi semakin spesifik,
hingga pada akhirnya sel-sel ini hanya dapat berkembang menjadi satu jenis sel
tertentu saja. Para peneliti berharap untuk dapat menggunakan sel-sel punca
untuk memperbaiki atau menggantikan sel-sel atau jaringan yang rusak atau
hancur (Svendsen dan Ebert, 2008).
Sel punca terbukti secara klinis dapat
menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sel punca dapat memperbanyak diri secara
terus-menerus dan dapat disesuaikan atau dikendalikan dengan kebutuhan yang
ada. Sel punca (stem cells) dapat memperbarui sel-sel tubuh yang rusak. Sayangnya,
sel punca akan berkurang seiring bertambahnya usia. Anak kecil yang terluka
akan lebih mudah sembuh daripada orang dewasa yang terluka. Sumber stem cells
ada di semua organ tubuh, tidak hanya di tali pusar. Ada stem cells kulit, stem
cells sum-sum tulang belakang, dan stem cells lemak (Marzili, 2007).
Sel punca juga berfungsi sebagai sistem
perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan
hidup organisme. Saat sel punca terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk
tetap menjadi sel punca atau menjadi sel dari jenis lain dengan fungsi yang
lebih khusus, misalnya sel otot, sel jantung, sel hati, sel darah merah atau
sel otak (Boenjamin, 2006).
Sel punca memiliki dua sifat penting
yang sangat berbeda dengan sel yang lain, pertama sel punca belum merupakan sel
dengan spesialisasi fungsi tetapi dapat memperbarui diri dengan pembelahan sel
bahkan setelah tidak aktif dalam waktu yang panjang. Kedua, dalam situasi
tertentu, sel punca dapat diinduksi untuk menjadi sel dengan fungsi tertentu
seperti sel jaringan maupun sel organ yang mempunyai tugas tersendiri. Pada
sumsusm tulang dan darah tali pusat (umbilical cord blood = UCB), sel punca
secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak. Meski demikian,
pada organ lain seperti pakreas atau hatii, pembelahan hanya terjadi dalam
kondisi tertentu (Boenjamin, 2006).
Terapi sel punca bertujuan untuk
membangunkan sel-sel tidak aktif di dalam tubuh manusia, sehingga merangsang
pertumbuhan dan fungsi yang sudah ada jaringan dan perbaikan atau regenerasi
sel-sel tua dan rusak. Terapi seluler menawarkan apa vitamin, mineral dan
perawatan konvensional atau alam lainnya tidak bisa. Hal ini dapat menyediakan
komponen yang tepat diperlukan untuk jaringan yang terluka atau sakit untuk
menyembuhkan dan regenerasi. Sementara sebagian besar obat farmasi bekerja
dengan menekan gejala tertentu selama waktu singkat dan hanya untuk selama
mereka diambil, Terapi sel penyembuhan merangsang sel tubuh sendiri dan
kekuatan merevitalisasi dan memberikan sebuah efek jangka panjang (Brunner dan
Suddarth, 2002).
Terapi sel menawarkan kesempatan untuk
mengobati banyak penyakit degeneratif yang disebabkan oleh kematian sel
prematur atau kerusakan jenis sel tertentu dan kegagalan tubuh untuk mengganti
atau memulihkan mereka. Saat ini, pemulihan lengkap dari malfungsi atau
kegagalan organ membutuhkan operasi transplantasi. Dalam kebanyakan kasus,
penyakit degeneratif dapat disembuhkan biasanya diperlakukan dengan mengatasi
gejala, atau menunda suatu timbulnya degenerasi lebih lanjut (Brunner dan
Suddarth, 2002).
b. Fungsi Sel Punca
Ada dua kegunaan stem cell
(sel punca) yaitu berdasarkan fungsinya dan riset. Fungsi setelah diaktifkannya
stem cell dalam tubuh adalah sebagai berikut:
1) Menambah jumlah
peredaran darah dan mempercepat mikro sirkulasi darah sehingga bagi pasien yang
stroke, tekanan darah tinggi, leukimia, dan cuci darah akan sembuh.
2) Menambah oksigen
dalam darah dan sel sehingga dapat mematikan virus dan bakteri.
3) Mempercepat transportasi nutrisi ke seluruh
tubuh.
4) Mempercepat
pembersihan dalam tubuh manusia sehingga pasien setelah diterapi stemcell akan
lancar buang air besar dan air kecil.
5) Mempercepat metabolisme tubuh.
6) Menambah kinerja sel badan (Abunda, 2012).
Sedangkan peran
stemcell dalam riset adalah sebagai berikut:
1) Terapi gen, sebagai
alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien dan selanjutnya dapat dilacak
jejaknya apakah stem cell ini berhasil mengekspresikan gen tertentu dalam tubuh
pasien.
2) Mengetahui proses
biologis yaitu perkembangan organisme dan
perkembangan kanker. Melalui stemcell dapat dipelajari perkembangan
sel baik sel normal maupun sel kanker.
3) Penemuan dan
pengembangan obat baru yaitu untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai
jaringan.
4) Terapi sel berupa
replacement therapy, Oleh karena stem cell dapat hidup di luar organ tubuh
manusia misalnya di cawan petri maka dapat dilakukan manipulasi terhadap
stemcell itu tanpa mengganggu organ tubuh manusia (Abunda, 2012).
c.
Letak Sel Punca
Sel punca dewasa dapat diambil dari
berbagai sumber seperti:
1) Otak mempunyai sel
punca yang dapat diubah menjadi berbagai jenis sel darah seperti sel mieloid,
sel limfoid, dan juga sel hematopoietik.
2) Sumsum tulang
belakang merupakan sumber sel punca dewasa paling umum yang menghasilkan sel
punca hematopoietik. Sel punca jenis ini telah digunakan secara ekstensif untuk
transplantasi sumsum tulang belakang
dalam pengobatan kanker darah seperti leukemia. Selain itu juga dapat digunakan untuk memperbaiki
otot jantung yang rusak dengan cara
menginjeksi mereka ke daerah yang rusak untuk membentuk pembuluh baru dan meningkatkan kapasitas
fungsional jantung.
3) Darah tepi atau
darah yang mengalir pada pembuluh darah diketahui memiliki sel punca yang
berperan dalam pembentukan sel darah(hematopoiesis). Selain itu, sel punca dari
darah manusia dapat berdiferensiasi
menjadi sel hati, saluran pencernaan, dan kulit.
4) Pembuluh darah.
5) Saluran pencernaan
memiliki sel punca tepatnya pada bagian epitel usus untuk mendukung pergantian
terus-menerus dari sel-sel epitel usus. Salah satu tantangan yang dihadapi
adalah mengidentifikasi niche atau relung dari sel punca tersebut karena
jawabannya akan memberi petunjuk mengapa beberapa pasien yang terinfeksi
Helicbacter pylori dapat terkena tukak lambung sementara sebagian besar orang
yang memiliki H. Pylori pada lambungnya tidak terkena tukak
lambung, kemungkinan sel punca berperan
dalam hal tersebut.
6)
Kornea
7)
Hati
8)
Pankreas (Marzili, 2007).
2. Sindrom Parkinson
a.
Definisi
Penyakit
Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif,
merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer. Penyakit ini
memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga. Pertama kali
ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun
1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan
pergerakan. Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita diantaranya resting
tremor, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Tanda-tanda motorik
tersebut merupakan akibat dari degenerasi neuron dopaminergik pada system
nigrostriatal. Namun, derajat keparahan defisit motorik tersebut beragam.
Tanda-tanda motorik pasien sering disertai depresi, disfungsi kognitif,
gangguan tidur, dan disfungsi autonom (Agoes dkk; 2010).
Penyakit
Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan wanita
seimbang. 5 – 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya
muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65
tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh
dunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 60 – 64 tahun sampai
3,5 % pada usia 85 – 89 tahun. Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar
dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit
Parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat,
tremor akan berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang
selama tidur (Agoes dkk; 2010).
Penderita Penyakit Parkinson mengalami
kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan
bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya
terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan.
Kekakuan dan kesulitan dalam memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai
kesulitan. Otot-otot kecil di tangan seringkali mengalami gangguan, sehingga
pekerjaan sehari -hari (misalnya mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu)
semakin sulit dilakukan. Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam
melangkah dan seringkali berjalan tertatih-tatih dimana lengannya tidak berayun
sesuai dengan langkahnya. Jika penderita Penyakit Parkinson sudah mulai
berjalan, mereka mengalami kesulitan untuk berhenti atau berbalik. Langkahnya
bertambah cepat sehingga mendorong mereka untuk berlari kecil supaya tidak
terjatuh. Sikap tubuhnya menjadi bungkuk dan sulit mempertahankan keseimbangan
sehingga cenderung jatuh ke depan atau ke belakang. Wajah penderita Penyakit
Parkinson menjadi kurang ekspresif
karena otot-otot wajah untuk membentuk ekspresi tidak bergerak. Kadang
berkurangnya ekspresi wajah ini disalah artikan sebagai depresi, walaupun
memang banyak penderita Penyakit Parkinson yang akhirnya mengalami depresi (Agoes
dkk; 2010).
b.
Penyebab Penyakit Parkinson
Beberapa
hal yang diduga bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut:
1) Usia : Hal ini
berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal,
terutama pada substansia nigra, pada penyakit parkinson (Agoes dkk; 2010).
2) Geografi : Faktor
resiko yang mempengaruhi perbedaan angka secara geografis ini termasuk adanya
perbedaaan genetik, kekebalan terhadap penyakit dan paparan terhadap faktor
lingkungan (Agoes dkk; 2010).
3) Periode : Fluktuasi
jumlah penderita penyakit parkinson tiap periode mungkin berhubungan dengan
hasil pemaparan lingkungan yang episodik, misalnya proses infeksi,
industrialisasi ataupn gaya hidup. Data dari Mayo Klinik di Minessota, tidak
terjadi perubahan besar pada angka morbiditas antara tahun 1935 sampai tahun
1990. Hal ini mungkin karena faktor lingkungan secara relatif kurang
berpengaruh terhadap timbulnya penyakit parkinson (Agoes dkk; 2010).
4) Genetik : Penelitian
menunjukkan adanya mutasi genetik yang berperan pada penyakit parkinson. Yaitu
mutasi pada gen a-sinuklein pada lengan panjang kromosom 4 (PARK1) pada pasien
dengan Parkinsonism autosomal dominan. Pada pasien dengan autosomal resesif
parkinson, ditemukan delesi dan mutasi point pada gen parkin (PARK2) di
kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya disfungsi mitokondria. Adanya
riwayat penyakit parkinson pada keluarga meningakatkan faktor resiko menderita
penyakit parkinson sebesar 8,8 kali pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali
pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun sangat jarang, jika disebabkan oleh
keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada usia relatif muda (Agoes dkk;
2010).
5) Faktor Lingkungan
a) Xenobiotik
Berhubungan
erat dengan paparan pestisida yang dapat menmbulkan kerusakan mitokondria.
b) Pekerjaan
Lebih
banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama.
c) Infeksi
Paparan virus influenza intrautero
diduga turut menjadi faktor predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan
substansia nigra. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya kerusakan substansia
nigra oleh infeksi Nocardia astroides.
d) Diet
Konsumsi lemak dan kalori tinggi
meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada
penyakit parkinson. Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif.
e) Trauma kepala
Cedera kranio serebral bisa menyebabkan
penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar.
f)
Stress dan depresi
Beberapa
penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik. Depresi dan
stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena pada stress dan depresi
terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif (Agoes
dkk; 2010).
c.
Gejala klinis Penyakit Parkinson
Meskipun
gejala yang disampaikan di bawah ini bukan hanya milik penderita parkinson,
umumnya penderita parkinson mengalami hal itu.
1) Gejala Motorik
a)
Tremor/bergetar
Gejala penyakit parkinson sering luput dari
pandangan awam, dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang
tua. Salah satu ciri khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor
(bergetar) jika sedang beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan
sesuatu, getaran tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor,
yang hilang juga sewaktu tidur. Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar
pada sendi metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang
logam atau memulung-mulung (pil rolling) (Husni, 2002).
Tremor
tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada
kelopak mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang
menghitung uang). Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan,
kepala penderita bisa bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas
(tanpa sadar). Artinya, jika disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada
awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat penyakit,
tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi (Husni, 2002).
b)
Rigiditas/kekakuan
Tanda
yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan tangan yang tremor tersebut
digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu pada pergelangan
tangan, terasa ada tahanan seperti melewati suatu roda yang bergigi sehingga
gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-putus. Selain di tangan maupun di kaki,
kekakuan itu bisa juga terjadi di leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya
menjadi tidak halus lagi seperti break-dance. Gerakan yang kaku membuat
penderita akan berjalan dengan postur yang membungkuk. Untuk mempertahankan
pusat gravitasinya agar tidak jatuh, langkahnya menjadi cepat tetapi
pendek-pendek (Husni, 2002).
c)
Akinesia/Bradikinesia
Gerakan volunter
menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk
bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila
berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan
berkurangnya ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang,
misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak
menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut (Husni, 2002).
d) Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk
Melangkah
e) Mikrografia
Tulisan tangan secara
gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala
dini (Husni, 2002).
f) Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson)
Berjalan dengan langkah
kecil menggeser dan makin menjadi cepat (marche a petit pas), stadium lanjut
kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila
berjalan (Husni, 2002).
g) Bicara monoton
Hal ini karena bradikinesia
dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara
atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara
bisikan ) yang lambat (Husni, 2002).
h)
Dimensia
Adanya perubahan status
mental selama perjalanan penyakitnya dengan deficit kognitif (Husni, 2002).
i) Gangguan behavioral
Lambat-laun menjadi
dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas,
depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya
masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup (Husni,
2002).
j) Gejala Lain
Kedua mata
berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya (tanda
Myerson positif) (Husni, 2002).
2. Gejala non motorik
a)
Disfungsi otonom
Keringat berlebihan,
air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik,
kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic, pengeluaran urin yang banyak,
gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat
seksual, perilaku, orgasme (Husni, 2002).
b) Gangguan suasana
hati, penderita sering mengalami depresi
c)
Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat
d)
Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia)
e) Gangguan sensasi
Kepekaan kontras visual
lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaan warna. Penderita sering mengalami
pingsan, umumnya disebabkan oleh hypotension orthostatic, suatu kegagalan
sistem saraf otonom untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban
atas perubahan posisi badan. Berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa
bau ( microsmia atau anosmia) (Husni, 2002).
d.
Patofisiologi
Penyakit
Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang mengakibatkan kematian sel
terutama pada daerah substantia nigra.
Gejala penyakit Parkinson baru akan muncul bila kerusakan sel neuron dopaminergik telah mencapai 80 % dari
substantia nigra. Walaupun keadaan inilah yang sangat mempengaruhi keadaan
penyakit Parkinson, tetapi ditemukan juga kerusakan sel neuron di tempat lain
seperti noradrenergik di locus cureleus, dopaminergik di ventral tegmentum,
thalamus, hipothalamus, serotonergik di raphe nukleus. Kerusakan sel neuron ini
akan mengakibatkan gejala yang sesuai dengan kekurangan neurotransmiter yang
seharusnya diproduksi. Pada penyakit Parkinson selain kekurangan
neurotransmiter dopamin ditemukan pula penurunan neurotansmiter noradrenalin
dan serotonin (Ganong dan Mcphee, 2011).
Kekurangan
neurotransmiter dopamin akan mengakibatkan gangguan terutama pada jaras
dopaminergik. Terdapat tiga jaras dopaminergik yang utama yaitu jalur
nigrostriatal, mesolimbik dan
mesokortikal. Pada jalur nigrostriatal merupakan jalur yang berfungsi sistem
motorik, sedangkan jalur mesolimbik dan mesokortikal merupakan jalur yang
berfungsi penghargaan(reward), penguatan (reinforcement), motivasi, perhatian
dan kendali perilaku (behavior). Hal tersebut
akan mempengaruhi fungsi motorik dan akan menimbulkan gejala disabilitas
dan pada efek samping obat anti parkinson akan terjadi diskinesia. Sedangkan
jalur mesolimbik dan mesokortikal kekurangan dopamin akan mengakibatkan
gangguan kognitif dan psikologis (Ganong dan
Mcphee, 2011).
Kekurangan
neurotransmiter noradrenalin akan berpengaruh pada jaras noradrenergik yaitu pontine
locus coeruleus dan lateral tegmental nuclei. Kedua jaras ini secara
bersama-sama mengatur fungsi kognisi, motivasi, memori, emosi dan respon
endokrin. Walaupun belum dapat dibuktikan secara pasti, beberapa peneliti
menduga hilangnya neuron noradrenergik berakibat timbulnya gejala depresi dan
gangguan kognitif pada penderita Parkinson (Ganong dan Mcphee, 2011).
Sedangkan penurunan jumlah
serotonin akan mengakibatkan keadaan depresi. Hal ini didukung pada pemberian
obat yang menghambat pengambilan kembali serotonin (SSRIs), didapat respon
perbaikan depresi yang relatif cepat. Dari penjelasan diatas dapat dirangkumkan
bahwa penyakit Parkinson yang ditandai dengan hilangnya neuron dopaminergik
pada substansia nigra, disertai neuron serotonergik dan noradrenergik, akan mengakibatkan deplesi
neurotransmiter dopamin, serotonin dan noradrenalin, yang selanjutnya mendasari
timbulnya gejala klinik disabilitas, depresi, gangguan kognisi. Hal ini pada
akhirnya diduga akan mempengaruhi kualitas hidup penderita Parkinson disamping faktor umur,
budaya, dan dukungan sosial (Ganong dan Mcphee, 2011).
Patofisiologi
depresi pada penyakit Parkinson sampai saat ini belum diketahui pasti. Namun
teoritis diduga hal ini berhubungan dengan defisiensi serotonin, dopamin dan
noradrenalin. Pada penyakit Parkinson terjadi degenerasi sel-sel neuron yang
meliputi berbagai inti subkortikal termasuk di antaranya substansia nigra, area
ventral tegmental, nukleus basalis, hipotalamus, pedunkulus pontin, nukleus
raphe dorsal, locus cereleus, nucleus central pontine dan ganglia otonomik
(Ganong dan Mcphee, 2011).

BAB III
METODE
TERAPI PARKINSON
A.
Terapi Parkinson menggunakan Prinsip Pengobatan Stem Cell
Regenerasi
pada sel punca merupakan suatu kemampuan untuk membelah dan menghasilkan lebih
banyak sel-sel punca. Sel-sel ini kemudian akan terus membelah, menjadi sel-sel
yang lebih spesifik, sampai akhirnya menjadi sel yang hanya dapat berkembang
menjadi satu jenis sel tertentu saja. Para peneliti berharap dapat menggunakan
sel punca untuk memperbaiki atau menggantikan sel-sel atau jaringan yang rusak.
Transplantasi sel punca dapat digunakan sebagai pengobatan kelainan darah,
misalnya leukemia, anemia aplastik, thalasemia, anemia sel sabit, dan beberapa
kelainan imunodefisiensi. Sel punca jenis tertentu juga dapat digunakan untuk
transplantasi pada orang-orang dengan kerusakan sumsum tulang akibat kemoterapi
dosis tinggi atau terapi radiasi yang digunakan untuk mengobati kanker.
Transplantasi sel punca diharapkan suatu hari nanti akan berguna untuk
mengobati berbagai penyakit, seperti penyakit Parkinson dan Alzheimer, dimana
sel-sel punca yang ditransplantasi dapat menjadi sel-sel otak (Lawrence, 2010).
Prinsip
pengobatan stem cell sendiri untuk Parkinson yaitu setelah stem cell masuk pada
lesi pasien melalui injeksi arteri, dapat memperbaharui dan memulihkan
substantia nigra (sel hitam), mengembalikan kadar neurotransmitter, memperbaiki
gejala kegetaran, kekakuan, pergerakan yang lamban, hingga mencapai target
pengobatan. Terapi stem cell dapat mengobati penyakit parkinson idiopatik,
parkinson sekunder, sistem sindrom degenerasi parkinson dan ditambah sindrom
parkinson lainnya. Stem cell sangat efektif untuk pengobatan parkinson pada
stadium I, II, III, IV, V (Nakamura, 2008).

Gambar 2. Mekanisme Transplantasi Stem Cell Pada
Penyakit Parkinson
Salah satu sumber
alternatif sel untuk mengobati penyakit Parkinson adalah menggunakan sel punca
dewasa yang berasal dari sumsum tulang belakang untuk menggantikan sel-sel neuron
(saraf) otak yang rusak. Sumsum tulang belakang merupakan sumber sel punca
dewasa paling umum yang menghasilkan sel punca hematopoietik. Sel punca jenis
ini telah digunakan secara ekstensif untuk transplantasi sumsum tulang belakang
dalam pengobatan kanker darah seperti leukemia. Selain itu juga dapat digunakan
untuk memperbaiki otot jantung yang rusak dengan cara menginjeksi mereka ke
daerah yang rusak untuk membentuk pembuluh baru dan meningkatkan kapasitas
fungsional jantung (Nakamura, 2008).
Salah satu sifat
sel punca dewasa adalah mereka dapat diambil dan ditransplantasikan dari
individu yang sama sehingga terapi imunosupresi (penekanan sistem imun) dapat
dihindari. Berbeda halnya dengan sel punca dari sumber lain yang masih
membutuhkan terapi imunosupresi (penekanan sistem imun) untuk menghindari
reaksi penolakan dan intoleransi sistem imun akibat dari ketidakcocokkan antara
jaringan donor dengan jaringan resipien (Nakamura, 2008).
Pada penyakit
Parkinson, didapatkan kematian neuron-neuron nigra-striatal, yang merupakan
neuron dopaminergik. Dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam
gerakan tubuh yang halus. Dengan berkurangnya dopamin, maka pada penyakit
Parkinson terjadi gejala-gejala gangguan gerakan halus. Dalam hal ini
transplantasi neuron dopamin diharapkan dapat memperbaiki gejala penyakit
Parkinson. Tahun 2001, dilakukan penelitian dengan menggunakan jaringan mesensefalik embrio manusia yang
mengandung neuron-neuron dopamin. Jaringan tersebut ditransplantasikan ke dalam
otak penderita Parkinson berat dan dipantau dengan alat PET (Positron Emission
Tomography). Hasilnya setelah transplantasi terdapat perbaikan dalam uji-uji
standar untuk menilai penyakit Parkinson, peningkatan fungsi neuron dopamin
yang tampak pada pemeriksaan PET; perbaikan
bermakna ini tampak pada penderita yang lebih muda. Namun setelah 1
tahun, 15% dari pasien yang ditransplantasi ini kambuh setelah dosis levodopa
dikurangi atau dihentikan (Nakamura, 2008).
Dengan terapi Stem
cell dapat hidup diluar tubuh manusia, misalnya di cawan Petri. Sifat ini dapat
digunakan untuk melakukan manipulasi pada stem cells yang akan ditransplantasikan
ke dalam organ tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu tanpa
mengganggu organ tubuh. Pada keadaan ini stem cell setelah dimanipulasi dapat
ditransplantasi ke dalam tubuh pasien agar stem cell tersebut dapat berdiferensiasi menjadi
sel-sel organ tertentu yang menggantikan sel-sel yang telah rusak atau mati
akibat penyakit degeneratif (Dittmar dan Zanker, 2009).
Sel punca dapat berasal dari sel orang
itu sendiri (transplantasi autologus) atau dari donor (transplantasi
allogenic). Jika sel punca diambil dari orang itu sendiri, maka sel-sel
tersebut harus diambil sebelum dilakukan kemoterapi atau terapi radiasi karena
tindakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada sel punca. Sel punca akan
dimasukkan kembali pada tubuh orang tersebut setelah pengobatan selesai
(Nakamura, 2008).

Gambar 3. Transplantasi stem cell dalam pencangkokan
sumsum tulang belakang
Sel
punca untuk sel darah bisa diperoleh dari sumsum tulang atau, dalam jumlah
kecil, dari darah. Pencangkokkan sumsum tulang adalah salah satu jenis
pencangkokkan sel punca, karena sumsum tulang mengandung sel punca yang menghasilkan
lebih banyak sel darah. Untuk transplantasi sumsum tulang, pendonor akan
diberikan anestesi (bius) umum terlebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan
sumsum tulang dari tulang pinggul donor (Marzili, 2007).
Terkadang
sel punca orang dewasa diambil dari dalam darah. Pertama-tama seorang donor
akan diberikan obat yang membuat sumsum tulang melepaskan sel-sel punca lebih
banyak ke dalam aliran darah. Kemudian darah akan diambil dan dialirkan ke
sebuah mesin yang akan memisahkan sel-sel punca. Biasanya diperlukan 6 kali 2-4
jam pertemuan dengan periode 1-2 minggu untuk mendapatkan sel punca yang cukup.
Sel-sel tersebut kemudian dapat disimpan dengan dibekukan untuk dipakai jika
diperlukan kemudian (Marzili, 2007).
Sel
punca yang diperoleh kemudian disuntikkan ke pembuluh darah resipien
(penerima). Sel-sel punca yang telah masuk ke tubuh resipien akan bermigrasi
dan mulai bermultiplikasi pada tulang dan menghasilkan sel-sel darah. Transplantasi
sel punca pada pasien-pasien post kemoterapi atau terapi radiasi memiliki
risiko untuk terjadinya infeksi. Hal ini disebabkan oleh sel-sel darah putih
yang rusak atau berkurang jumlahnya akibat kemoterapi atau terapi radiasi.
Dengan demikian, risiko terjadinya infeksi sangat tinggi, terutama pada 2-3
minggu pertama sesudah transplantasi, sampai sel-sel punca yang didonorkan
dapat menghasilkan sel-sel darah putih yang cukup untuk mencegah infeksi
(Marzili, 2007).
Risiko
lain yang dapat terjadi adalah graft versus host disease. Hal ini terjadi
karena sumsum tulang baru yang berasal dari donor bisa menghasilkan sel-sel
yang dapat menyerang sel-sel resipien. Risiko terjadinya infeksi dapat
dikurangi dengan menempatkan resipien pada ruangan isolasi untuk periode waktu
tertentu, sampai sel-sel yang ditransplantasikan dapat menghasilkan sel-sel
darah putih. Setiap orang yang akan memasuki ruang isolasi harung menggunakan
masker dan baju khusus, serta telah mencuci tangan dengan cermat terlebih
dahulu. Antibodi dari darah donor dapat diberikan pada resipien untuk membantu
melindungi terhadap infeksi. Faktor-faktor pertumbuhan, yang dapat menstimulasi
produksi sel-sel darah, dapat membantu untuk menurunkan risiko terjadinya
infeksi dan graft versus host disease (Marzili, 2007).
Resipien
(penerima) transplantasi sel punca biasanya perlu menjalani rawat inap di rumah
sakit selama 1-2 bulan, Setelah meninggalkan rumah sakit, resipien juga perlu
untuk memeriksakan dirinya secara teratur. Kebanyakan penderita memerlukan
waktu minimal 1 tahun untuk dapat pulih kembali (Marzili, 2007).
Pengobatan hanya bersifat simtomatis,
karena sel-sel otak yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi dan progres
penyakit pun tidak bisa dihentikan. Terapi diarahkan pada pemulihan kembali
dari keseimbangan hormon yang terganggu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
mengurangi Ach dengan antikolinergika, atau dengan cara meningkatkan jumlah
dopamine dengan dopaminergika. Tujuan akhir dari terapi ini, di samping
memungkinkan penderita berfungsi seoptimal mungkin, adalah untuk mengurangi
atau memperlambat komplikasi-komplikasi jangka panjang yang sukar ditanggulangi
(Marzili, 2007).
B. Hasil Penelitian Mengenai Cell-Based Therapy
Ada beberapa
alasan penelitian mengapa stem cell merupakan calon yang bagus dalam cell-based
therapy:
1. Stem cell
tersebut dapat diperoleh dari pasien itu sendiri. Artinya transplantasi dapat
bersifat autolog sehingga menghindari potensi rejeksi. Berbeda dengan
transplantasi organ yang membutuhkan organ donor yang sesuai (match),
transplantasi stem cell dapat dilakukan tanpa organ donor yang sesuai.
2. Mempunyai
kapasitas proliferasi yang besar sehingga dapat diperoleh sel dalam jumlah
besar dari sumber yang terbatas. Misalnya pada luka bakar luas, jaringan kulit
yang tersisa tidak cukup untuk menutupi lesi luka bakar yang luas. Dalam hal ini terapi stem
cell sangat berguna.
3. Mudah
dimanipulasi untuk mengganti gen yang sudah tidak berfungsi lagi melalui metode
transfer gen.
4. Dapat bermigrasi ke jaringan
target dan dapat berintegrasi ke dalam
jaringan dan berinteraksi dengan jaringan sekitarnya (Nakamura, 2008).
C.
Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Stem
Cell Dewasa (Adult Stem Cell) untuk Terapi Parkinson
1. Keuntungan adult stem cell:
a) Dapat diambil dari
sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan imun.
b) Sudah terspesialisasi sehingga induksi
menjadi lebih sederhana.
c) Secara etis tidak ada masalah (Nakamura,
2008).
2. Kerugian adult stem cell:
a) Jumlahnya sedikit,
sangat jarang ditemukan pada jaringan matur sehingga sulit mendapatkan adult
stem cell dalam jumlah banyak.
b) Masa hidupnya tidak selama embryonic stem
cell.
c)
Bersifat multipoten, sehingga diferensiasi tidak seluas embryonic stem cell yang bersifat pluripoten (Nakamura,
2008).
D.
Kelebihan Metode Terapi Stem Cell
1. Sangat efektif
Professor di pusat penelitian kesehatan dan pengontrolan
penyakit, Inggris Warwickshire County pengendalian penyakit Andorha dan
rehabilitasi pusat penelitian Profesor, Peneliti Senior, Sylvana, 28 kota London,
Manchester, Roma, Montreal, Vienna, 21.000 kasus transplantasistemcell saraf
dalam pengobatan statistik bedah penyakit Parkinson, menemukan bahwa setelah
operasi hampir 79% pasien mengalami perbaikan yang signifikan dalam 63,2%
pasien dengan tidak kambuh dalam lima tahun. Umumnya setelah melakukan 2 tahap
pengobatan, pasien akan merasa pulih, gejala gemetar pada tangan dan kaki pun
membaik. Setelah pengobatan, pasien dapat melakukan aktifitas ringan, misalnya
menulis, mengikat tali sepatu, menyikat gigi, dll (Boenjamin, 2006).
2. Keamanannya terjamin
Metode stem cell tidak mempunyai efek samping,
sangat sedikit terjadi penolakan dari tubuh, operasi mengambil teknologi
minimal invasive, tidak ada pembedahan, tidak ada rasa sakit, dan efek nya
dapat dilihat dengan cepat (Boenjamin, 2006).
Metode obat-obatan termasuk pengobatan konservatif.
Penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan
penyakitnya lebih lama, tetapi juga dapat menambah beban yang harus ditanggung
oleh ginjal pasien. Metode operasi dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak
darah, penyebaran luka, kelumpuhan pada anggota badan, penolakan dari tubuh dan
risiko lainnya (Boenjamin, 2006).
3. Sumber yang banyak dan jangkauan yang luas
Sel induk dewasa umumnya ditemukan di sebagian besar
jaringan dan organ dalam tubuh, terutama berasal dari sel induk pada sumsum
tulang, sel induk pada darah perifer, sel induk pada tali pusat, dsb. Terapi
Stem cell dapat mengobati Penyakit Parkinson idiopatik, parkinson sekunder, sistem
sindrom degenerasi Parkinson dan ditambah sindrom Parkinson lainnya. Stem cell
sangat efektif untuk pengobatan Parkinson pada stadium I, II, III, IV, V.
Pengobatan dengan obat-obatan hanya dapat mengobati Parkinson pada tahap-tahap
tertentu. Metode operasi, adalah salah satu metode pengobatan yang terpaksa
diambil untuk pengobatan penyakit Parkinson yang sudah parah (Boenjamin, 2006).
E.
Terapi Parkinson dengan Terapi Obat
Pengobatan penyakit
parkinson bersifat individual dan simtomatik, obat-obatan yang biasa diberikan
adalah untuk pengobatan penyakit atau menggantikan atau meniru dopamin yang
akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.
Ada beberapa terapi
yang digunakan untuk pengobatan penyakit Parkinson, diantaranya:
a. Antikolinergik
Benzotropine (Cogentin), trihexyphenidyl (Artane). Berguna untuk
mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Untuk mengaluskan pergerakan
(Nakamura, 2008).
b. Carbidopa/levodopa
Levodopa merupakan
pengobatan utama untuk penyakit parkinson. Di dalam otak levodopa dirubah
menjadi dopamine. L-dopa akan diubah menjadi dopamine pada neuron dopaminergik
oleh L-aromatik asam amino dekarboksilase (dopa dekarboksilase). Walaupun
demikian, hanya 1-5% dari L-Dopa memasuki neuron dopaminergik, sisanya
dimetabolisme di sembarang tempat, mengakibatkan efek samping yang luas. Karena
mekanisme feedback, akan terjadi inhibisi pembentukan L-Dopa endogen. Carbidopa
dan benserazide adalah dopa dekarboksilase inhibitor, membantu mencegah
metabolisme L-Dopa sebelum mencapai neuron dopaminergik (Nakamura, 2008).
Levodopa mengurangi
tremor, kekakuan otot dan memperbaiki gerakan. Penderita penyakit parkinson
ringan bisa kembali menjalani aktivitasnya secara normal. Obat ini diberikan
bersama carbidopa untuk meningkatkan efektivitasnya & mengurangi efek
sampingnya. Sejak diperkenalkan akhir tahun 1960an, levodopa dianggap merupakan
obat yang paling banyak dipakai sampai saat ini. Levodopa dianggap merupakan
tulang punggung pengobatan penyakit parkinson. Berkat levodopa, seorang penderita
parkinson dapat kembali beraktivitas secara normal (Nakamura, 2008).
Banyak dokter menunda
pengobatan simtomatis dengan levodopa sampai memang dibutuhkan. Bila gejala
pasien masih ringan dan tidak mengganggu, sebaiknya terapi dengan levodopa
jangan dilakukan. Hal ini mengingat bahwa efektifitas levodopa berkaitan dengan
lama waktu pemakaiannya. Levodopa melintasi sawar-darah-otak dan memasuki
susunan saraf pusat dan mengalami perubahan ensimatik menjadi dopamin. Dopamin
menghambat aktifitas neuron di ganglia basal (Nakamura, 2008).
Levodopa adalah
prekusor metabolik dopamin. Obat ini mengembalikan kadar dopamin dalam
substansia nigra yang atrofik pada penyakit parkinson. Pada awal penyakit,
jumlah neuron dopaminergik dalam substansia nigra (biasanya 20% dari normal)
yang tersisa, cukup untuk konversi levodopa ke dopamin. Dengan demikian, pada
pasien baru respon terapi terhadap levodopa konsisten dan pasien jarang
mengeluh bahwa efek obat mengecil. Namun, semakin lama jumlah neuron dan
sel-sel yang mampu mengambil levodopa yang diberikan semakin berkurang, semakin
sedikit pula yang mampu mengubahnya menjadi dopamin untuk disimpan atau
dikeluarkan lebih lanjut. Akibatnya terjadi fluktuasi dalam pengendalian
motorik. Efek levodopa dalam SSP dapat diperkuat oleh pemberian bersama
carbidopa, suatu inhibitor dekarboksilase dopamin yang tidak menembus sawar
otak darah. Carbidopa mengurangi metabolisme levodopa dalam saluran pencernaan
dan jaringan perifer sehingga dapat meningkatkan ketersediaan levodopa di SSP. Carbidopa
menurunkan dosis levodopa yang diperlukan sampai 4-5 kali dan menurunkan efek
samping dopamin yang terbentuk di perifer. Kesembuhan dengan levodopa hanya
bersifat simtomatik dan berlangsung selama obat berada dalam tubuh (Nakamura,
2008).
Penambahan karbidopa
dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas levodopa di dalam otak dan untuk
mengurangi efek levodopa yang tidak diinginkan di luar otak. Mengkonsumsi
levodopa selama bertahun-tahun bisa menyebabkan timbulnya gerakan lidah dan
bibir yang tidak dikehendakik, wajah menyeringai, kepala mengangguk-angguk dan
lengan serta tungkai berputar-putar. Beberapa ahli percaya bahwa menambahkan
atau mengganti levodopa dengan bromokriptin selama tahun-tahun pertama
pengobatan bisa menunda munculnya gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki.
Sel-sel saraf penghasil dopamin dari jaringan janin manusia yang dicangkokkan
ke dalam otak penderita Parkinson bisa memperbaiki kelainan kimia tetapi belum
cukup data mengenai tindakan ini (Nakamura, 2008).
c. COMT inhibitors
Entacapone (Comtan),
Tolcapone (Tasmar). Untuk mengontrol fluktuasi motor pada pasien yang
menggunakan obat levodopa. Tolcapone adalah penghambat enzim COMT,
memperpanjang efek L-Dopa. Tapi karena efek samping yang berlebihan seperti
liver toksik, maka jarang digunakan. Jenis yang sama, entacapone, tidak
menimbulkan penurunan fungsi liver (Nakamura, 2008).
d. Agonis dopamin
Agonis dopamin seperti
bromokriptin (Parlodel), pergolid (Permax), pramipexol (Mirapex), ropinirol,
kabergolin, apomorfin dan lisurid dianggap cukup efektif untuk mengobati gejala
Parkinson. Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor dopamin, akan tetapi
obat ini juga menyebabkan penurunan reseptor dopamin secara progresif yang
selanjutnya akan menimbulkan peningkatan gejala Parkinson. Obat ini dapat
berguna untuk mengobati pasien yang pernah mengalami serangan yang berfluktuasi
dan diskinesia sebagai akibat dari levodopa dosis tinggi. Apomorfin dapat
diinjeksikan subkutan. Dosis rendah yang diberikan setiap hari dapat mengurangi
fluktuasi gejala motorik (Nakamura, 2008).
e. MAO-B inhibitors
Selegiline (Eldepryl),
Rasagaline (Azilect). Inhibitor MAO diduga berguna pada penyakit Parkinson
karena neuotransmisi dopamine dapat ditingkatkan dengan mencegah perusakannya.
Selegiline dapat pula memperlambat memburuknya sindrom Parkinson, dengan
demikian terapi levodopa dapat ditangguhkan selama beberapa waktu. Berguna
untuk mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Yaitu untuk mengaluskan
pergerakan (Nakamura, 2008).
Selegilin dan rasagilin
mengurangi gejala dengan dengan menginhibisi monoamine oksidase B (MAO-B),
sehingga menghambat perusakan dopamine yang dikeluarkan oleh neuron
dopaminergik. Metabolitnya mengandung L-amphetamin and L-methamphetamin. Efek
sampingnya adalah insomnia. Kombinasi dengan L-dopa dapat meningkatkan angka
kematian, yang sampai saat ini tidak bisa diterangkan secara jelas. Efek lain
dari kombinasi ini adalah stomatitis (Nakamura, 2008).
f. Amantadine (Symmetrel)
Berguna untuk perawatan
akinesia, dyskinesia, kekakuan, gemetaran (Nakamura, 2008).
g. Inhibitor dopa dekarboksilasi dan levodopa
Untuk mencegah agar
levodopa tidak diubah menjadi dopamin di luar otak, maka levodopa
dikombinasikan dengan inhibitor enzim dopa dekarboksilase. Untuk maksud ini
dapat digunakan karbidopa atau benserazide ( madopar ). Dopamin dan karbidopa
tidak dapat menembus sawar-otak-darah. Dengan demikian lebih banyak levodopa
yang dapat menembus sawar-otak-darah, untuk kemudian dikonversi menjadi
dopamine di otak. Efek sampingnya umunya hampir sama dengan efek samping yang
ditimbulkan oleh levodopa (Nakamura, 2008).
h. Deep Brain Stimulation (DBS)
Pada tahun 1987,
diperkenalkan pengobatan dengan cara memasukkan elektroda yang memancarkan
impuls listrik frekuensi tinggi terus-menerus ke dalam otak. Terapi ini disebut
deep brain stimulation (DBS). DBS adalah tindakan minimal invasif yang
dioperasikan melalui panduan komputer dengan tingkat kerusakan minimal untuk
mencangkokkan alat medis yang disebut neurostimulator untuk menghasilkan
stimulasi elektrik pada wilayah target di dalam otak yang terlibat dalam
pengendalian gerakan (Nakamura, 2008).
Terapi ini memberikan
stimulasi elektrik rendah pada thalamus. Stimulasi ini digerakkan oleh alat
medis implant yang menekan tremor. Terapi ini memberikan kemungkinan penekanan
pada semua gejala dan efek samping, dokter menargetkan wilayah subthalamic
nucleus (STN) dan globus pallidus(GP) sebagai wilayah stimulasi elektris. DBS
direkomendasikan bagi pasien dengan penyakit parkinson tahap lanjut (stadium 3 atau
4) yang masih memberikan respon terhadap levodopa (Nakamura, 2008).
KESIMPULAN
Sel
punca adalah sel yang belum berdiferensiasi yang memiliki potensi untuk
berkembang menjadi satu dari sekitar 200 jenis sel di dalam tubuh, meliputi sel
darah, sel saraf, sel otot, dan sel kulit. Sel punca dapat diinduksi untuk
menjadi sel dengan fungsi tertentu seperti sel jaringan maupun sel organ yang
mempunyai tugas tersendiri. Pada sumsum tulang dan darah tali pusar, sel punca
secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak, meski demikian
pada organ lain seperti pankreas atau
hati, pembelahan hanya terjadi dalam kondisi tertentu. Sel punca berpontensi
untuk mengubah keadaan penyakit pada manusia dengan cara memperbaiki jaringan
atau organ tertentu.
Penyakit Parkinson merupakan suatu
gangguan yang disebabkan oleh kematian sekelompok sel-sel otak yang bekerja
bersama neurotransmitter dopamin. Penyakit ini ada hubungannya dengan penurunan
aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi nigra dan korpus
stratum yaitu bagian dari sistem ganglia basalis otak yang berfungsi untuk
mengatur gerakan. Banyak gejala Parkinson memperlihatkan ketidakseimbangan
antara neuron eksitatif kolinergik dan neuron inhibitory dopaminergik yang menurun.
Sehingga diperlukan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit Parkinson.
Pengobatan penyakit Parkinson saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala
motorik dan memperlambat progresivitas penyakit. Tetapi selain gangguan
motorik, penyakit Parkinson juga mengakibatkan
gejala non motorik seperti depresi dan penurunan kognitif, disamping
terdapat efek terapi jangka panjang.
Terapi
untuk penyakit Parkinson yang utama adalah dengan terapi stem cell. Prinsip
pengobatan stem cell sendiri untuk Parkinson yaitu setelah stem cell masuk pada
lesi pasien melalui injeksi arteri, dapat memperbaharui dan memulihkan
substantia nigra (sel hitam), mengembalikan kadar neurotransmitter, memperbaiki
gejala kegetaran, kekakuan, pergerakan yang lamban, hingga mencapai target pengobatan.
Salah satu sumber alternatif sel untuk mengobati penyakit Parkinson adalah
menggunakan sel punca dewasa yang berasal dari sumsum tulang belakang untuk
menggantikan sel-sel neuron (saraf) otak yang rusak.
Selain
terapi menggunakan stem cell, terapi obat yang paling efektif untuk penyakit
Parkinson adalah levodopa (Sinemet), yang diubah menjadi dopamin di otak.
Namun, karena pengobatan jangka panjang dengan levodopa dapat menyebabkan efek
samping yang tidak menyenangkan (respon disingkat menjadi dosis masing-masing,
kram menyakitkan, dan gerakan tak terkendali), penggunaannya sering ditunda
sampai kerusakan motorik lebih parah. Levodopa sering diresepkan bersama dengan
carbidopa (Sinemet), yang mencegah levodopa dari yang rusak sebelum mencapai otak.
Oleh karena itu, terapi yang mampu mengatasi penyakit degeneratif seperti
penyakit parkinson yaitu dengan terapi Stem cell khususnya dengan sel induk
dewasa yang berasal dari sumsum tulang belakang dan dengan terapi obat
khususnya levodopa yang paling efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Abunda
2012. How-live-cell-therapy-works. Diakses 28 Maret 2014, (http://www.philstar.com/entertainment/2012-09-01/844191/doctor-how-live-cell-therapy-works).
Agoes,
Azwar, dkk. 2010. Penyakit di Usia Tua
Penyakit Parkinson. EGC, Jakarta.
Boenjamin,
S 2006, Aplikasi Terapeutik Sel Stem
Embrionik Pada Berbagai Penyakit Degeneratif, Cermin Dunia Kedokteran.
Brunner
& Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal
Bedah Vol. 3. EGC, Jakarta.
Dittmar
T, Z̈änker KS 2009. Stem Cell Biology in
Health and Disease. Springer verlag, Dordrecht.
Ganong,
William F., and Mcphee, Stephen J. 2011. Patofisiologi
Penyakit Edisi 5. EGC, Jakarta.
Husni,
A 2002. Penyakit parkinson,
patofisiologi, diagnosis dan wacana terapi. Disampaikan pada Temu Ilmiah
Nasional I dan konferensi kerja III PERGEMI, Semarang.
Lawrence,
S.B 2010. Stem Cells For Dummies. Wiley
Publishing, Indianapolis, Indiana.
Marzili,
A 2007. Stem Cell Research and Cloning.
Chelsea House Publishers, New york.
Nakamura,
K. 2008. Medical Management of
Parkinson's Disease. Department of Neurology, University of California, San
Francisco.
Svendsen,
C & Ebert, AD 2008. Encyclopedia of
Stem Cell Research. SAGE Publications, Los Angeles.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar