Minggu, 05 April 2015

Makalah Emfisema

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Emfisema adalah jenis penyakit paru obstruktif  kronik yang melibatkan kerusakan pada kantung udara (alveoli) di paru-paru. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang diperlukan sehingga membuat penderita sulit bernafas dan juga batuk kronis. Rokok adalah penyebab utama timbulnya emfisema. Biasanya pada pasien perokok berumur 15-25 tahun. Pada umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran napas kecil dan fungsi paru-parunya. Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun terjadi sesak napas, hipoksemia, dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun sudah ada kor-pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan napas dan meninggal dunia. Penyakit emfisema rata-rata pada laki-laki terdapat 65% dan 15% pada wanita.
Pada Survei Kesehatan Rumat Tangga (SKRT) DepKes RI menunjukkan angka kematian karena emfisema menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia. Penyakit emfisema di Indonesia meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang menghisap rokok, dan pesatnya kemajuan industri yang menimbulkan pencemaran lingkungan dan polusi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksut dengan definisi emfisema?
2.      Apa sajakah jenis-jenis emfisema?
3.      Apa sajakah faktor penyebab emfisema?
4.      Bagaimana gejala emfisema?
5.      Bagaimana cara penyembuhan emfisema?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi emfisema.
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis emfisema.
3.      Untuk mengetahui faktor yang menyebabakan emfisema.
4.      Untuk mengetahui gejala emfisema.
5.      Untuk mengetahui cara penyembuhan emfisema





BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Definisi Penyakit Emfisema
Definisi menurut para ahli yaitu :
1.      Kus Irianto (2004)
Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi.
2.      Robbins (1994)
Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya.
3.      Corwin (2000)
Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli.
4.      The American Thorack society (1962)
Emfisema adalah suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus.
Empisema disebut juga dalam penyakit paru obstruktif kronis (paru mengacu pada paru-paru), karena kerusakan jaringan paru sekitar kantung kecil yang disebut alveoli, membuat udara kantung ini tidak dapat menahan bentuk fungsional mereka pada pernafasan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang diperlukan.
Emfisema disebabkan karena hilangnya elastisitas alveolus. Alveolus sendiri adalah gelembung-gelembung yang terdapat dalam paru-paru. Pada penderita emfisema, volume paru-paru lebih besar dibandingkan dengan orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya.
B.     Jenis-jens Emfisema
Terdapat 3 jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru :
1.      Panlobular (panacinar)
Terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan.
2.      Sentrilobular (sentroacinar)
Perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.
3.      Emfisema Paraseptal
Merusak alveoli lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi blebs (udara dalam alveoli) sepanjang perifer paru-paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumotorak spontan.
PLE dan CLE sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya bula timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkiolus. Pada waktu inspirasi lumen bronkiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan akibat penebalan mukosa dan banyaknya mukus. Tetapi sewaktu ekspirasi, lumen bronkiolus tersebut kembali menyempit, sehingga sumbatan dapat menghalangi keluarnya udara.
C.     Faktor Penyebab Empisema
1.      Rokok
Rokok adalah salah satu penyebab utama dari penyakit empisema. Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan gerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplacia, kelenjar mukus bronkus. Gangguan pada silia, fungsi makrofag alveolar mempermudah terjadinya perdangan pada bronkus dan bronkiolus, serta infeksi pada paru-paru. Peradangan bronkus dan bronkiolus akan mengakibatkan obstruksi jalan napas, dinding bronkiolus melemah dan alveoli pecah. Disamping itu, merokok akan merangsang leukosit polimorfonuklear melepaskan enzim protease (proteolitik), dan menginaktifasi antiprotease (Alfa-1 anti tripsin), sehingga terjadi ketidakseimbangan antara aktifitas keduanya.
2.      Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan terjadinya emfisema. Insidensi dan angka kematian emfisema dapat lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi. Polusi udara seperti halnya asap tembakau juga menyebabkan gangguan pada silia, menghambat fungsi makrofag alveolus.
3.      Infeksi
Infeksi saluran napas akan menyebabkan kerusakan paru-paru lebih berat. Penyakit infeksi saluran napas seperti pneumonia, bronkiolitis akut, asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan napas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.
4.      Faktor genetik
Faktor genetik mempunyai peran pada penyakit emfisema. Faktor genetik diantaranya adalah atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar imonoglobulin E (IgE) serum, adanya hiper responsive bronkus, riwayat penyakit obstruksi paru pada keluarga, dan defisiensi protein alfa – 1 anti tripsin. Cara yang tepat bagaimana defisiensi antitripsin dapat menimbulkan emfisema masih belum jelas.
5.      Hipotesis Elastase-Anti Elastase
Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan jaringan.Perubahan keseimbangan menimbulkan jaringan elastik paru rusak. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema.
6.      Faktor Sosial Ekonomi
Emfisema lebih banyak didapat pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin kerena perbedaan pola merokok, selain itu mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.
7.      Pengaruh usia.
D.    Gejala Emfisma
Tanda dan gejala Emfisema meliputi:
1.      Pada awal gejalanya serupa dengan bronkhitis Kronis
2.      Napas terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit
3.      Dada berbentuk seperti tong, otot leher tampak menonjol, penderita sampai membungkuk
4.      Bibir tampak kebiruan
5.       Berat badan menurun akibat nafsu makan menurun
6.       Batuk menahun






BAB III
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan emfisema paru terbagi atas:
1.   Penyuluhan, Menerangkan pada para pasien hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.
2.  Pencegahan
a. Rokok, merokok harus dihentikan meskipun sukar.Penyuluhan dan usaha yang optimal harus dilakukan
b. Menghindari lingkungan polusi, sebaiknya dilakukan penyuluhan secara berkala pada pekerja pabrik, terutama pada pabrik-pabrik yang mengeluarkan zat-zat polutan yang berbahaya terhadap saluran nafas.
c. Vaksin, dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi, terutama terhadap influenza dan infeksi pneumokokus.
3.   Terapi Farmakologi, tujuan utama adalah untuk mengurangi obstruksi jalan nafas yang masih mempunyai komponen reversible meskipun sedikit. Hal ini dapat dilakukan dengan:
a. Pemberian Bronkodilator,
Golongan teofilin, biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg BB per oral dengan memperhatikan kadar teofilin dalam darah. Konsentrasi dalam darah yang baik antara 10-15mg/L.
Golongan agonis B2, biasanya diberikan secara aerosol/nebuliser. Efek samping utama adalah tremor,tetapi menghilang dengan pemberian agak lama.
b. Pemberian Kortikosteroid, pada beberapa pasien, pemberian kortikosteroid akan berhasil mengurangi obstruksi saluran nafas. Hinshaw dan Murry menganjurkan untuk mencoba pemberian kortikosteroid selama 3-4 minggu. Kalau tidak ada respon baru dihentikan.
c. Mengurangi sekresi mukus
Minum cukup, supaya tidak dehidrasi dan mukus lebih encer sehingga urine tetap kuning pucat. Ekspektoran, yang sering digunakan ialah gliseril guaiakolat, kalium yodida, dan amonium klorida. Nebulisasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencerkan sputum. Mukolitik dapat digunakan asetilsistein atau bromheksin.
4. Fisioterapi dan Rehabilitasi, tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan pasien dari segi social, emosional dan vokasional. Program fisioterapi yang dilaksanakan berguna untuk :
a. Mengeluarkan mukus dari saluran nafas.
b. Memperbaiki efisiensi ventilasi.
c. Memperbaiki dan meningkatkan kekuatan fisis
5. Pemberian O2 dalam jangka panjang, akan memperbaiki emfisema disertai kenaikan toleransi latihan. Biasanya diberikan pada pasien hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu latihan. Menurut Make, pemberian O2 selama 19 jam/hari akan mempunyai hasil lebih baik dari pada pemberian 12 jam/hari.

Diagnosis emfisema  ialah berdasarkan pada gejala atau keluhan yang didapat dari anamnesis, tanda-tanda yang didapat dari pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Keluhan utama pada emfisema paru adalah sesak nafas, batuk berdahak tidak begitu mencolok, kadang-kadang disertai sedikit sputum mukoid.
Anamnesis yaitu terdiri dari adanya riwayat menghirup rokok, riwayat terpajan zat kimia, riwayat penyakit emfisema pada keluarga, terdapat faktor predisposisi pada masa bayi misalnya BBLR, infeksi saluran nafas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara, sesak nafas waktu aktivitas terjadi bertahap dan perlahan-lahan memburuk dalam beberapa tahun, dan pada bayi terdapat kesulitan pernapasan berat tetapi kadang-kadang tidak terdiagnosis hingga usia sekolah atau bahkan sesudahnya.

A.    Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik yang terdiri dari pemeriksaan,
1.      Pemeriksaan Inspeksi
a)      Pursed-lips breathing (mulut setengah terkatup).
b)      Dada berbentuk barrel-chest.
c)      Sela iga melebar.
d)     Sternum menonjol.
e)      Retraksi intercostal saat inspirasi.
f)       Penggunaan otot bantu pernapasan.
2.      Pemeriksaan Palpasi yaitu vokal fremitus melemah.
3.      Perkusi yaitu hipersonor, hepar terdorong ke bawah, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah.
4.      Auskultasi
a)      Suara nafas vesikuler normal atau melemah.
b)       Terdapat ronki samar-samar.
c)      Wheezing terdengar pada waktu inspirasi maupun ekspirasi.
d)     Ekspirasi memanjang.
e)      Bunyi jantung terdengar jauh, bila terdapat hipertensi pulmonale akan terdengar suara P2 mengeras pada LSB II-III.

B.     Pemeriksan Penunjang
1.      Faal Paru
a)      Spinometri (VEP, KVP).
a.1) Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP 1 < 80 % KV menurun, KRF dan VR meningkat.
a.2)  VEP, merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya dan perjalanan penyakit.
b)      Uji bronkodilator
Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan 15-20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP 1.
2.      Darah Rutin, Test darah Hb, Ht, dan Leukosit.
3.      Gambaran Radiologis
Pada emfisema terlihat gambaran :
a.       Diafragma letak rendah dan datar.
b.      Ruang retrosternal melebar.
c.       Gambaran vaskuler berkurang.
d.      Jantung tampak sempit memanjang.
e.       Pembuluh darah perifer mengecil.
4.      Pemeriksaan Analisis Gas Darah
Terdapat hipoksemia dan hipokalemia akibat kerusakan kapiler alveoli.
5.      Pemeriksaan EKG
Untuk mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai hipertensi pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.
6.      Pemeriksaan Enzimatik
Kadar alfa-1-antitripsin rendah.
                                                                                                           
C.     Penatalaksanaan keperawatan
Penatalaksanaan emfisema paru terbagi atas :
1.      Penatalaksanaan umum
Yang termasuk di sini adalah :
a.       Pendidikan terhadap keluarga dan penderita. Mereka harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mencetuskan eksaserbasi serta faktor yang bisa memperburuk penyakit. Ini perlu peranan aktif penderita untuk usaha pencegahan.
b.      Menghindari rokok dan zat inhalasi. Rokok merupakan faktor utama yang dapat memperburuk perjalanan penyakit. Penderita harus berhenti merokok. Di samping itu zat-zat inhalasi yang bersifat iritasi harus dihindari. Karena zat itu menimbulkan ekserbasi / memperburuk perjalanan penyakit.
c.       Menghindari infeksi saluran nafas, Infeksi saluran nafas sedapat mungkin dihindari oleh karena dapat menimbulkan suatu eksaserbasi akut penyakit.

2.      Pemberian obat-obatan.
a.       Bronkodilator
1)      Derivat Xantin
Sejak dulu obat golongan teofilin sering digunakan pada emfisema paru. Obat ini menghambat enzim fosfodiesterase sehingga cAMP yang bekerja sebagai bronkodilator dapat dipertahankan pada kadar yang tinggi ex : teofilin, aminofilin.
2)      Gol Agonis
Obat ini menimbulkan bronkodilatasi. Reseptor beta berhubungan erat dengan adenil siklase yaitu substansi penting yang menghasilkan siklik AMP yang menyebabkan bronkodilatasi. Pemberian dalam bentuk aerosol lebih efektif. Obat yang tergolong beta-2 agonis adalah : terbutalin, metaproterenol dan albuterol.
3)      Antikolinergik
Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor kolinergik sehingga menekan enzim guanilsiklase. Kemudian pembentukan cAMP sehingga bronkospasme menjadi terhambat ex : Ipratropium bromida diberikan dalam bentuk inhalasi.
4)      Kortikosteroid
Manfaat kortikosteroid pada pengobatan obstruksi jalan napas pada emfisema masih diperdebatkan. Pada sejumlah penderita mungkin memberi perbaikan. Pengobatan dihentikan bila tidak ada respon. Obat yang termasuk di dalamnya adalah : dexametason, prednison dan prednisolon.

3.      Terapi oksigen
Pada penderita dengan hipoksemia yaitu PaO2 < 55 mmHg. Pemberian oksigen konsentrasi rendah 1-3 liter/menit secara terus menerus memberikan perbaikan psikis, koordinasi otot, toleransi beban kerja.

4.      Latihan fisik
Hal ini dianjurkan sebagai suatu cara untuk meningkatkan kapasitas latihan pada pasien yang sesak nafas berat. Sedikit perbaikan dapat ditunjukan tetapi pengobatan jenis ini membutuhkan staf dan waktu yang hanya cocok untuk sebagian kecil pasien. Latihan pernapasan sendiri tidak menunjukkan manfaat. Latihan fisik yang biasa dilakukan :
a.       Secara perlahan memutar kepala ke kanan dan ke kiri
b.      Memutar badan ke kiri dan ke kanan diteruskan membungkuk ke depan lalu ke belakang
c.       Memutar bahu ke depan dan ke belakang
d.      Mengayun tangan ke depan dan ke belakang dan membungkuk
e.       Gerakan tangan melingkar dan gerakan menekuk tangan
f.       Latihan dilakukan 15-30 menit selama 4-7 hari per minggu
g.      Dapat juga dilakukan olah raga ringan naik turun tangga
h.      Walking (joging ringan).

5.      Rehabilitasi
Rehabilitasi psikis berguna untuk menenangkan penderita yang cemas dan mempunyai rasa tertekan akibat penyakitnya. Sedangkan rehabilitasi pekerjaan dilakukan untuk memotivasi penderita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisiknya. Misalnya bila istirahat lebih baik duduk daripada berdiri atau dalam melakukan pekerjaan harus lambat tapi teratur.

6.      Fisioterapi
Tujuan dari fisioterapi adalah :
a.       Membantu mengeluarkan sputum dan meningkatkan efisiensi batuk.
b.      Mengatasi gangguan pernapasan pasien.
c.       Memperbaiki gangguan pengembangan thoraks.
d.      Meningkatkan kekuatan otot-otot pernapasan.
e.       Mengurangi spasme otot leher.

Penerapan fisioterapi :
a.       Postural Drainase
Salah satu tehnik membersihkan jalan napas akibat akumulasi sekresi dengan cara penderita diatur dalam berbagai posisi untuk mengeluarkan sputum dengan bantuan gaya gravitasi. Tujuannya untuk mengeluarkan sputum yang terkumpul dalam lobus paru, mengatasi gangguan pernapasan dan meningkatkan efisiensi mekanisme batuk
b.      Breathing Exercises
Dimulai dengan menarik napas melalui hidung dengan mulut tertutup kemudian menghembuskan napas melalui bibir dengan mulut mencucu. Posisi yang dapat digunakan adalah tidur terlentang dengan kedua lutut menekuk atau kaki ditinggikan, duduk di kursi atau di tempat tidur dan berdiri.
Tujuannya untuk memperbaiki ventilasi alveoli, menurunkan pekerjaan pernapasan, meningkatkan efisiensi batuk, mengatur kecepatan pernapasan, mendapatkan relaksasi otot-otot dada dan bahu dalam sikap normal dan memelihara pergerakan dada.
c.       Latihan Batuk
Merupakan cara yang paling efektif untuk membersihkan laring, trakea, bronkioli dari sekret dan benda asing.
d.      Latihan Relaksasi
Secara individual penderita sering tampak cemas, takut karena sesat napas dan kemungkinan mati lemas. Dalam keadaan tersebut, maka latihan relaksasi merupakan usaha yang paling penting dan sekaligus sebagai langkah pertolongan.

Metode yang biasa digunakan adalah Yacobson.
Contohnya :
Penderita di tempatkan dalam ruangan yang hangat, segar dan bersih, kemudian penderita ditidurkan terlentang dengan kepala diberi bantal, lutut ditekuk dengan memberi bantal sebagai penyangga .
F. PROGNOSIS
Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinis waktu berobat.
Penderita yang berumur kurang dari 50 tahun dengan :
- Sesak ringan, 5 tahun kemudian akan terlihat ada perbaikan.
- Sesak sedang, 5 tahun kemudian 42 % penderita akan sesak lebih berat dan meninggal.


  1. PENYULUHAN
Menerangkan pada para pasien hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus di hindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.
  1. PENCEGAHAN
  • ROKOK
Merokok harus di hentikan meskipun sukar . penyeluhan dan usaha yang optimal harus di lakukan .
  • Menghidari lingkungan polusi
Sebaiknya di lakukan penyuluhan secara berkala pada pekerja paprik , terutama pada pabrik – pabrik yang mengeluarkan zat – zat polutan yang berbahaya terhadap saluran nafas
  • VAKSIN
Di anjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi , terutama terhadap influenza dan infeksi pneumokukus
  1. TERAPI FARMAKOLOGI
Tujuan utama adalah untuk mengurangi obstruksi jalan nafas yang masih memepunyai komponen yang reversible meskipun sedikit. Hal ini dapat di lakukan dengan :
  • Pemberian bronkodilator
  • Pemberian kortikoteroid
  • Mengurangi sekresi mucus
    • Pemberian bronkodialtor
ü  Golongan teofilin
Biasanya di beriakan denagn dosis 10-15mg/kgBB per oral dengan memperhatikan kadar teofilin dalam darah . konsentrasi dalam darah yang baik antara 10 – 15 mg/L .
ü  Golongan agonis B2
Biasanya di berikan secara aerosol /nebuliser . efek samping utama adalah tremor , tetapi menghilang dengan pemberian agak lama  .
  • Pemberian kortikosteroid
ü  Pada beberapa pasien , pemberian kortikosteroid akan berhasil mengurangi obstruksi saluran nafas . Hinsway dan Murry menganjurkan untuk mencoba pemberian kortikosteroid selama3- 4 minggu . kalau tidak ada respon baru di hentikan .
  • Mengurangi sekresi mucus
ü  Minum cukup supaya tidak dehidrasi dan mucus lebih encer sehingga encer sehingga urine tetap kuning pucat .
ü  Ekspektoran yang sering di guankan adalah gliseril guaiakoat ,kalium yodida dan ammonium klorida .
ü  Nebulisasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencerkan sputum .
ü  Mukolitik dapat di gunakan asetilsistein atau bromheksin .

  • Fisioterpi dan rehabilitasi
Tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan pasien dari segi social , emosional , dan vokasional . program fisioterapi yang di laksanakan berguna untuk :
ü  Memperbaiki efisiensi ventilasi
ü  Memperbaiki dan meningkatkan kekuatan fisis
  • Pemberian  O2 jangka panjang
Pemberian O2 dalam jangka panjang akan memperbaiki emfisema di sertai kenaikan toleransi latihan . biasanya di berikan pada pasien hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu latihan . menurut MAKE , pemberian O2 sealma 19 jam/hari akan mempunyai hasil lebih baik dari pada 12 jam/hari .







BAB IV
KESIMPULAN

1.      Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya.
2.      Penyebab dari emfisema ialah rokok, polusi, infeksi, faktor genetic, dan obstruksi jalan nafas.
3.      Gejala dari emfisema meliputi: pada awal gejalanya serupa dengan bronkhitis kronis, napas terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit, sesak napas dalam waktu lama dan tidak dapat disembuhkan dengan obat pelega yang biasa digunakan penderita sesak napas, dada berbentuk seperti tong, otot leher tampak menonjol, penderita sampai membungkuk, bibir tampak kebiruan, berat badan menurun akibat nafsu makan menurun , batuk menahun.
4.      Cara penyembuhan langkah yang paling penting dalam setiap rencana pengobatan untuk perokok dengan emphysema adalah berhenti merokok segera










DAFTAR PUSTAKA

Baughman,D.C& Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Carpenito, Lynda Jual. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Guyton, Arthur C., dkk. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Mills,John& Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru.Jakarta : EGC
Soemantri ,S.1990.Bronkhilis Kronik dan Emfisema Paru dalam, Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2.Jakarta: FKUI

Soemarto,R.1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya : RSUD Dr.Soetomo

2 komentar:

  1. The Mens Titanium watches | Shop Online - iTanium Art
    The Mens Titanium watches are a unique series titanium sheets that has been developed specifically to provide the suunto 9 baro titanium exact same level 2018 ford fusion hybrid titanium of quality as the modern watches micro titanium trim that titanium sunglasses we all

    BalasHapus