BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Emfisema
adalah jenis penyakit paru obstruktif kronik yang melibatkan kerusakan pada kantung
udara (alveoli) di paru-paru. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang
diperlukan sehingga membuat penderita sulit bernafas dan juga batuk kronis. Rokok adalah penyebab utama timbulnya
emfisema. Biasanya pada pasien perokok berumur 15-25 tahun. Pada umur 25-35
tahun mulai timbul perubahan pada saluran napas kecil dan fungsi paru-parunya.
Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun terjadi
sesak napas, hipoksemia, dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun sudah
ada kor-pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan napas dan meninggal dunia.
Penyakit emfisema rata-rata pada laki-laki terdapat 65% dan 15% pada wanita.
Pada Survei
Kesehatan Rumat Tangga (SKRT) DepKes RI menunjukkan angka kematian karena
emfisema menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering kematian di
Indonesia. Penyakit emfisema di Indonesia meningkat seiring dengan meningkatnya
jumlah orang yang menghisap rokok, dan pesatnya kemajuan industri yang
menimbulkan pencemaran lingkungan dan polusi.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksut dengan definisi emfisema?
2. Apa
sajakah jenis-jenis emfisema?
3. Apa
sajakah faktor penyebab emfisema?
4. Bagaimana
gejala emfisema?
5. Bagaimana
cara penyembuhan emfisema?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui definisi emfisema.
2. Untuk
mengetahui jenis-jenis emfisema.
3. Untuk
mengetahui faktor yang menyebabakan emfisema.
4. Untuk
mengetahui gejala emfisema.
5. Untuk
mengetahui cara penyembuhan emfisema
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Definisi
Penyakit Emfisema
Definisi menurut para ahli yaitu :
1. Kus Irianto (2004)
Emfisema merupakan
keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara
walaupun setelah ekspirasi.
2. Robbins (1994)
Emfisema merupakan
morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang udara distal
dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya.
3. Corwin (2000)
Emfisema adalah
penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan
alveoli.
4.
The American Thorack society (1962)
Emfisema adalah suatu
perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran
udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus.
Empisema disebut
juga dalam penyakit paru obstruktif kronis
(paru mengacu pada paru-paru), karena
kerusakan jaringan paru sekitar kantung kecil yang
disebut alveoli, membuat udara kantung ini tidak dapat menahan bentuk
fungsional mereka pada pernafasan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen
yang diperlukan.
Emfisema disebabkan karena hilangnya
elastisitas alveolus. Alveolus sendiri adalah gelembung-gelembung yang terdapat
dalam paru-paru. Pada penderita emfisema, volume paru-paru lebih besar
dibandingkan dengan orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya
dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya.
B. Jenis-jens
Emfisema
Terdapat
3 jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang
terjadi dalam paru-paru :
1. Panlobular (panacinar)
Terjadi
kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara
di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri
khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat
aktivitas, dan penurunan berat badan.
2. Sentrilobular (sentroacinar)
Perubahan
patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus
tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang
menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri),
polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada
sianosis, edema perifer, dan gagal napas.
3. Emfisema Paraseptal
Merusak alveoli
lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi blebs (udara dalam alveoli)
sepanjang perifer paru-paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari
pneumotorak spontan.
PLE dan CLE
sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya bula
timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkiolus. Pada waktu
inspirasi lumen bronkiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan
akibat penebalan mukosa dan banyaknya mukus. Tetapi sewaktu ekspirasi, lumen
bronkiolus tersebut kembali menyempit, sehingga sumbatan dapat menghalangi
keluarnya udara.
C.
Faktor
Penyebab Empisema
1.
Rokok
Rokok adalah salah
satu penyebab utama dari penyakit empisema. Rokok secara patologis dapat
menyebabkan gangguan gerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag
alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplacia, kelenjar mukus bronkus. Gangguan pada silia, fungsi
makrofag alveolar mempermudah terjadinya perdangan pada bronkus dan bronkiolus,
serta infeksi pada paru-paru. Peradangan bronkus dan bronkiolus akan
mengakibatkan obstruksi jalan napas, dinding bronkiolus melemah dan alveoli
pecah. Disamping itu, merokok akan merangsang leukosit polimorfonuklear
melepaskan enzim protease (proteolitik), dan menginaktifasi antiprotease
(Alfa-1 anti tripsin), sehingga terjadi ketidakseimbangan antara aktifitas
keduanya.
2.
Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan terjadinya emfisema.
Insidensi dan angka kematian emfisema dapat lebih tinggi di daerah yang padat
industrialisasi. Polusi udara seperti halnya asap tembakau juga menyebabkan
gangguan pada silia, menghambat fungsi makrofag alveolus.
3.
Infeksi
Infeksi saluran napas akan
menyebabkan kerusakan paru-paru lebih berat. Penyakit infeksi saluran napas
seperti pneumonia, bronkiolitis akut, asma bronkiale, dapat mengarah pada
obstruksi jalan napas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema.
4.
Faktor genetik
Faktor
genetik mempunyai peran pada penyakit emfisema. Faktor genetik diantaranya
adalah atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar
imonoglobulin E (IgE) serum, adanya hiper responsive bronkus, riwayat penyakit
obstruksi paru pada keluarga, dan defisiensi protein alfa – 1 anti tripsin.
Cara yang tepat bagaimana defisiensi antitripsin dapat menimbulkan emfisema
masih belum jelas.
5. Hipotesis
Elastase-Anti Elastase
Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase dan
anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan jaringan.Perubahan keseimbangan
menimbulkan jaringan elastik paru rusak. Arsitektur paru akan berubah dan
timbul emfisema.
6. Faktor
Sosial Ekonomi
Emfisema lebih banyak didapat pada golongan sosial ekonomi rendah,
mungkin kerena perbedaan pola merokok, selain itu mungkin disebabkan faktor
lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.
7. Pengaruh
usia.
D. Gejala
Emfisma
Tanda dan gejala Emfisema meliputi:
1.
Pada awal
gejalanya serupa dengan bronkhitis Kronis
2.
Napas
terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit
3.
Dada berbentuk seperti tong, otot leher tampak
menonjol, penderita sampai membungkuk
4.
Bibir tampak kebiruan
5.
Berat badan
menurun akibat nafsu makan menurun
6.
Batuk
menahun
BAB III
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan emfisema paru terbagi atas:1. Penyuluhan, Menerangkan pada para pasien hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.
2. Pencegahan
a. Rokok, merokok harus dihentikan meskipun sukar.Penyuluhan dan usaha yang optimal harus dilakukan
b. Menghindari lingkungan polusi, sebaiknya dilakukan penyuluhan secara berkala pada pekerja pabrik, terutama pada pabrik-pabrik yang mengeluarkan zat-zat polutan yang berbahaya terhadap saluran nafas.
c. Vaksin, dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi, terutama terhadap influenza dan infeksi pneumokokus.
3. Terapi Farmakologi, tujuan utama adalah untuk mengurangi obstruksi jalan nafas yang masih mempunyai komponen reversible meskipun sedikit. Hal ini dapat dilakukan dengan:
a. Pemberian Bronkodilator,
Golongan teofilin, biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg BB per oral dengan memperhatikan kadar teofilin dalam darah. Konsentrasi dalam darah yang baik antara 10-15mg/L.
Golongan agonis B2, biasanya diberikan secara aerosol/nebuliser. Efek samping utama adalah tremor,tetapi menghilang dengan pemberian agak lama.
b. Pemberian Kortikosteroid, pada beberapa pasien, pemberian kortikosteroid akan berhasil mengurangi obstruksi saluran nafas. Hinshaw dan Murry menganjurkan untuk mencoba pemberian kortikosteroid selama 3-4 minggu. Kalau tidak ada respon baru dihentikan.
c. Mengurangi sekresi mukus
Minum cukup, supaya tidak dehidrasi dan mukus lebih encer sehingga urine tetap kuning pucat. Ekspektoran, yang sering digunakan ialah gliseril guaiakolat, kalium yodida, dan amonium klorida. Nebulisasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencerkan sputum. Mukolitik dapat digunakan asetilsistein atau bromheksin.
4. Fisioterapi dan Rehabilitasi, tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan pasien dari segi social, emosional dan vokasional. Program fisioterapi yang dilaksanakan berguna untuk :
a. Mengeluarkan mukus dari saluran nafas.
b. Memperbaiki efisiensi ventilasi.
c. Memperbaiki dan meningkatkan kekuatan fisis
5. Pemberian O2 dalam jangka panjang, akan memperbaiki emfisema disertai kenaikan toleransi latihan. Biasanya diberikan pada pasien hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu latihan. Menurut Make, pemberian O2 selama 19 jam/hari akan mempunyai hasil lebih baik dari pada pemberian 12 jam/hari.
Diagnosis emfisema ialah
berdasarkan pada gejala atau keluhan yang didapat dari anamnesis, tanda-tanda
yang didapat dari pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Keluhan utama pada emfisema paru adalah sesak nafas, batuk berdahak tidak begitu mencolok, kadang-kadang disertai sedikit sputum mukoid.
Keluhan utama pada emfisema paru adalah sesak nafas, batuk berdahak tidak begitu mencolok, kadang-kadang disertai sedikit sputum mukoid.
Anamnesis yaitu terdiri dari adanya riwayat menghirup rokok,
riwayat terpajan zat kimia, riwayat penyakit emfisema pada keluarga, terdapat
faktor predisposisi pada masa bayi misalnya BBLR, infeksi saluran nafas
berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara, sesak nafas waktu aktivitas
terjadi bertahap dan perlahan-lahan memburuk dalam beberapa tahun, dan pada
bayi terdapat kesulitan pernapasan berat tetapi kadang-kadang tidak
terdiagnosis hingga usia sekolah atau bahkan sesudahnya.
A. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan
Fisik yang terdiri dari pemeriksaan,
1. Pemeriksaan Inspeksi
a) Pursed-lips breathing (mulut
setengah terkatup).
b) Dada berbentuk barrel-chest.
c) Sela iga melebar.
d) Sternum menonjol.
e) Retraksi intercostal saat inspirasi.
f) Penggunaan otot bantu pernapasan.
2. Pemeriksaan Palpasi yaitu vokal
fremitus melemah.
3. Perkusi yaitu hipersonor, hepar
terdorong ke bawah, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah.
4. Auskultasi
a) Suara nafas vesikuler normal atau
melemah.
b) Terdapat ronki samar-samar.
c) Wheezing terdengar pada waktu
inspirasi maupun ekspirasi.
d) Ekspirasi memanjang.
e) Bunyi jantung terdengar jauh, bila
terdapat hipertensi pulmonale akan terdengar suara P2 mengeras pada LSB II-III.
B. Pemeriksan Penunjang
1. Faal Paru
a) Spinometri (VEP, KVP).
a.1) Obstruksi ditentukan oleh nilai
VEP 1 < 80 % KV menurun, KRF dan VR meningkat.
a.2)
VEP, merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya
dan perjalanan penyakit.
b) Uji bronkodilator
Setelah
pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan 15-20 menit kemudian dilihat
perubahan nilai VEP 1.
2. Darah Rutin, Test darah Hb, Ht, dan
Leukosit.
3. Gambaran Radiologis
Pada
emfisema terlihat gambaran :
a. Diafragma letak rendah dan datar.
b. Ruang retrosternal melebar.
c. Gambaran vaskuler berkurang.
d. Jantung tampak sempit memanjang.
e. Pembuluh darah perifer mengecil.
4. Pemeriksaan Analisis Gas Darah
Terdapat hipoksemia dan hipokalemia akibat kerusakan kapiler
alveoli.
5. Pemeriksaan EKG
Untuk mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai
hipertensi pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.
6. Pemeriksaan Enzimatik
Kadar alfa-1-antitripsin rendah.
C.
Penatalaksanaan
keperawatan
Penatalaksanaan
emfisema paru terbagi atas :
1.
Penatalaksanaan
umum
Yang termasuk di sini adalah :
a.
Pendidikan
terhadap keluarga dan penderita. Mereka harus mengetahui faktor-faktor yang
dapat mencetuskan eksaserbasi serta faktor yang bisa memperburuk penyakit. Ini
perlu peranan aktif penderita untuk usaha pencegahan.
b.
Menghindari
rokok dan zat inhalasi. Rokok merupakan faktor utama yang dapat memperburuk
perjalanan penyakit. Penderita harus berhenti merokok. Di samping itu zat-zat
inhalasi yang bersifat iritasi harus dihindari. Karena zat itu menimbulkan
ekserbasi / memperburuk perjalanan penyakit.
c.
Menghindari
infeksi saluran nafas, Infeksi saluran nafas sedapat mungkin dihindari oleh
karena dapat menimbulkan suatu eksaserbasi akut penyakit.
2.
Pemberian
obat-obatan.
a.
Bronkodilator
1)
Derivat
Xantin
Sejak dulu obat golongan teofilin
sering digunakan pada emfisema paru. Obat ini menghambat enzim fosfodiesterase
sehingga cAMP yang bekerja sebagai bronkodilator dapat dipertahankan pada kadar
yang tinggi ex : teofilin, aminofilin.
2)
Gol
Agonis
Obat ini menimbulkan bronkodilatasi.
Reseptor beta berhubungan erat dengan adenil siklase yaitu substansi penting
yang menghasilkan siklik AMP yang menyebabkan bronkodilatasi. Pemberian dalam
bentuk aerosol lebih efektif. Obat yang tergolong beta-2 agonis adalah :
terbutalin, metaproterenol dan albuterol.
3)
Antikolinergik
Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor kolinergik sehingga menekan enzim guanilsiklase. Kemudian pembentukan cAMP sehingga bronkospasme menjadi terhambat ex : Ipratropium bromida diberikan dalam bentuk inhalasi.
Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor kolinergik sehingga menekan enzim guanilsiklase. Kemudian pembentukan cAMP sehingga bronkospasme menjadi terhambat ex : Ipratropium bromida diberikan dalam bentuk inhalasi.
4)
Kortikosteroid
Manfaat kortikosteroid pada pengobatan obstruksi jalan napas pada emfisema masih diperdebatkan. Pada sejumlah penderita mungkin memberi perbaikan. Pengobatan dihentikan bila tidak ada respon. Obat yang termasuk di dalamnya adalah : dexametason, prednison dan prednisolon.
Manfaat kortikosteroid pada pengobatan obstruksi jalan napas pada emfisema masih diperdebatkan. Pada sejumlah penderita mungkin memberi perbaikan. Pengobatan dihentikan bila tidak ada respon. Obat yang termasuk di dalamnya adalah : dexametason, prednison dan prednisolon.
3.
Terapi
oksigen
Pada penderita dengan hipoksemia
yaitu PaO2 < 55 mmHg. Pemberian oksigen konsentrasi rendah 1-3 liter/menit
secara terus menerus memberikan perbaikan psikis, koordinasi otot, toleransi
beban kerja.
4.
Latihan
fisik
Hal ini dianjurkan sebagai suatu
cara untuk meningkatkan kapasitas latihan pada pasien yang sesak nafas berat.
Sedikit perbaikan dapat ditunjukan tetapi pengobatan jenis ini membutuhkan staf
dan waktu yang hanya cocok untuk sebagian kecil pasien. Latihan pernapasan
sendiri tidak menunjukkan manfaat. Latihan fisik yang biasa dilakukan :
a.
Secara
perlahan memutar kepala ke kanan dan ke kiri
b.
Memutar
badan ke kiri dan ke kanan diteruskan membungkuk ke depan lalu ke belakang
c.
Memutar
bahu ke depan dan ke belakang
d.
Mengayun
tangan ke depan dan ke belakang dan membungkuk
e.
Gerakan
tangan melingkar dan gerakan menekuk tangan
f.
Latihan
dilakukan 15-30 menit selama 4-7 hari per minggu
g.
Dapat
juga dilakukan olah raga ringan naik turun tangga
h.
Walking
(joging ringan).
5.
Rehabilitasi
Rehabilitasi psikis berguna untuk menenangkan penderita yang cemas dan mempunyai rasa tertekan akibat penyakitnya. Sedangkan rehabilitasi pekerjaan dilakukan untuk memotivasi penderita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisiknya. Misalnya bila istirahat lebih baik duduk daripada berdiri atau dalam melakukan pekerjaan harus lambat tapi teratur.
Rehabilitasi psikis berguna untuk menenangkan penderita yang cemas dan mempunyai rasa tertekan akibat penyakitnya. Sedangkan rehabilitasi pekerjaan dilakukan untuk memotivasi penderita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisiknya. Misalnya bila istirahat lebih baik duduk daripada berdiri atau dalam melakukan pekerjaan harus lambat tapi teratur.
6.
Fisioterapi
Tujuan dari fisioterapi adalah :
Tujuan dari fisioterapi adalah :
a.
Membantu
mengeluarkan sputum dan meningkatkan efisiensi batuk.
b.
Mengatasi
gangguan pernapasan pasien.
c.
Memperbaiki
gangguan pengembangan thoraks.
d.
Meningkatkan
kekuatan otot-otot pernapasan.
e.
Mengurangi
spasme otot leher.
Penerapan fisioterapi :
a.
Postural
Drainase
Salah satu tehnik membersihkan jalan
napas akibat akumulasi sekresi dengan cara penderita diatur dalam berbagai
posisi untuk mengeluarkan sputum dengan bantuan gaya gravitasi. Tujuannya untuk
mengeluarkan sputum yang terkumpul dalam lobus paru, mengatasi gangguan
pernapasan dan meningkatkan efisiensi mekanisme batuk
b.
Breathing
Exercises
Dimulai dengan menarik napas melalui
hidung dengan mulut tertutup kemudian menghembuskan napas melalui bibir dengan
mulut mencucu. Posisi yang dapat digunakan adalah tidur terlentang dengan kedua
lutut menekuk atau kaki ditinggikan, duduk di kursi atau di tempat tidur dan
berdiri.
Tujuannya untuk memperbaiki ventilasi alveoli, menurunkan pekerjaan pernapasan, meningkatkan efisiensi batuk, mengatur kecepatan pernapasan, mendapatkan relaksasi otot-otot dada dan bahu dalam sikap normal dan memelihara pergerakan dada.
Tujuannya untuk memperbaiki ventilasi alveoli, menurunkan pekerjaan pernapasan, meningkatkan efisiensi batuk, mengatur kecepatan pernapasan, mendapatkan relaksasi otot-otot dada dan bahu dalam sikap normal dan memelihara pergerakan dada.
c.
Latihan
Batuk
Merupakan cara yang paling efektif
untuk membersihkan laring, trakea, bronkioli dari sekret dan benda asing.
d.
Latihan
Relaksasi
Secara individual penderita sering
tampak cemas, takut karena sesat napas dan kemungkinan mati lemas. Dalam
keadaan tersebut, maka latihan relaksasi merupakan usaha yang paling penting
dan sekaligus sebagai langkah pertolongan.
Metode yang biasa digunakan adalah Yacobson.
Contohnya :
Penderita di tempatkan dalam ruangan yang hangat, segar dan bersih, kemudian penderita ditidurkan terlentang dengan kepala diberi bantal, lutut ditekuk dengan memberi bantal sebagai penyangga .
F. PROGNOSIS
Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinis waktu berobat.
Penderita yang berumur kurang dari 50 tahun dengan :
- Sesak ringan, 5 tahun kemudian akan terlihat ada perbaikan.
- Sesak sedang, 5 tahun kemudian 42 % penderita akan sesak lebih berat dan meninggal.
- PENYULUHAN
Menerangkan pada para pasien hal-hal yang dapat
memperberat penyakit, hal-hal yang harus di hindarkan dan bagaimana cara
pengobatan dengan baik.
- PENCEGAHAN
- ROKOK
Merokok harus di hentikan meskipun sukar .
penyeluhan dan usaha yang optimal harus di lakukan .
- Menghidari
lingkungan polusi
Sebaiknya di lakukan penyuluhan secara berkala pada
pekerja paprik , terutama pada pabrik – pabrik yang mengeluarkan zat – zat
polutan yang berbahaya terhadap saluran nafas
- VAKSIN
Di anjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi ,
terutama terhadap influenza dan infeksi pneumokukus
- TERAPI
FARMAKOLOGI
Tujuan utama adalah untuk mengurangi obstruksi
jalan nafas yang masih memepunyai komponen yang reversible meskipun sedikit.
Hal ini dapat di lakukan dengan :
- Pemberian
bronkodilator
- Pemberian
kortikoteroid
- Mengurangi
sekresi mucus
- Pemberian
bronkodialtor
ü Golongan teofilin
Biasanya di beriakan denagn dosis 10-15mg/kgBB per
oral dengan memperhatikan kadar teofilin dalam darah . konsentrasi dalam darah
yang baik antara 10 – 15 mg/L .
ü Golongan agonis B2
Biasanya di berikan secara aerosol /nebuliser .
efek samping utama adalah tremor , tetapi menghilang dengan pemberian agak
lama .
- Pemberian
kortikosteroid
ü Pada beberapa pasien , pemberian
kortikosteroid akan berhasil mengurangi obstruksi saluran nafas . Hinsway dan
Murry menganjurkan untuk mencoba pemberian kortikosteroid selama3- 4 minggu .
kalau tidak ada respon baru di hentikan .
- Mengurangi
sekresi mucus
ü Minum cukup supaya tidak dehidrasi dan
mucus lebih encer sehingga encer sehingga urine tetap kuning pucat .
ü Ekspektoran yang sering di guankan adalah
gliseril guaiakoat ,kalium yodida dan ammonium klorida .
ü Nebulisasi dan humidifikasi dengan uap air
menurunkan viskositas dan mengencerkan sputum .
ü Mukolitik dapat di gunakan asetilsistein
atau bromheksin .
- Fisioterpi
dan rehabilitasi
Tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah
meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan
pasien dari segi social , emosional , dan vokasional . program fisioterapi yang
di laksanakan berguna untuk :
ü Memperbaiki efisiensi ventilasi
ü Memperbaiki dan meningkatkan kekuatan fisis
- Pemberian
O2 jangka panjang
Pemberian O2 dalam jangka panjang akan memperbaiki
emfisema di sertai kenaikan toleransi latihan . biasanya di berikan pada pasien
hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu latihan . menurut MAKE ,
pemberian O2 sealma 19 jam/hari akan mempunyai hasil lebih baik dari pada 12
jam/hari .
BAB IV
KESIMPULAN
1.
Emphysema
(emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada
jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya.
2.
Penyebab dari
emfisema ialah rokok, polusi, infeksi, faktor genetic, dan obstruksi jalan
nafas.
3.
Gejala dari
emfisema meliputi: pada awal gejalanya serupa
dengan bronkhitis kronis, napas
terengah-engah disertai dengan suara seperti peluit, sesak napas
dalam waktu lama dan tidak dapat disembuhkan dengan obat pelega yang biasa
digunakan penderita sesak napas, dada berbentuk seperti tong, otot leher tampak
menonjol, penderita sampai membungkuk, bibir tampak kebiruan, berat badan menurun
akibat nafsu makan menurun , batuk menahun.
4.
Cara penyembuhan langkah yang paling penting dalam
setiap rencana pengobatan untuk perokok dengan emphysema adalah berhenti
merokok segera
DAFTAR
PUSTAKA
Carpenito, Lynda Jual. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC
Guyton, Arthur C., dkk. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Mills,John& Luce,John M.1993. Gawat Darurat Paru-Paru.Jakarta : EGC
Soemantri
,S.1990.Bronkhilis Kronik dan Emfisema
Paru dalam, Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2.Jakarta: FKUI
Soemarto,R.1994.
Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya
: RSUD Dr.Soetomo
The Mens Titanium watches | Shop Online - iTanium Art
BalasHapusThe Mens Titanium watches are a unique series titanium sheets that has been developed specifically to provide the suunto 9 baro titanium exact same level 2018 ford fusion hybrid titanium of quality as the modern watches micro titanium trim that titanium sunglasses we all
p559b6vdxxp379 realistic dildos,penis rings,sex toys,sex chair,sex chair,sex toys,vibrators,vibrators,dog dildo o962n3jxxhn683
BalasHapus