Minggu, 05 April 2015

Makalah Stem Sells

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
           Pada dekade terakhir perhatian dan penelitian dalam bidang sel punca (stem cells) mengalami kemajuan yang amat pesat. Para peneliti menggunakan sel punca untuk mengetahui dan mempelajari proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan tubuh manusia serta patogenesis penyakit-penyakit yang diderita. Disamping itu, potensi sel punca juga menimbulkan harapan baru dalam pengobatan, khususnya penyakit degeneratif seperti Parkinson maupun kelainan seperti trauma, keganasan dan sebagainya.
            Perkembangan ilmu dan teknologi bidang kesehatan yang maju pesat maka dikembangkanlah Sel Punca, sedangkan yang dimaksud Sel Punca adalah sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri (self regenerate/self renewal) dan mampu  berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate). Kegunaan Sel Punca bagi umat manusia untuk masa yang akan datang sangat menjanjikan karena dapat menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan melalui upaya transplantasi dan terapi.
            Pemanfaatan sel punca (stem cell) untuk terapi pengobatan terus  berkembang pesat. Sejak digunakan di dunia kedokteran pada era 1950-an, sel  punca kini dapat digunakan menjadi salah satu jenis terapi modern yang memberi harapan kesembuhan untuk berbagai jenis penyakit kronis. Sel punca ini dapat dikembangkan dari sel embrionik yang diambil dari embrio bayi atau dari sel dewasa, seperti sumsum tulang, darah tepi, dan tali pusat  bayi baru lahir. Perlakuan dengan sel punca dibagi menjadi dua, yaitu terapi dan transplantasi. Pada proses terapi, sel punca hanya disuntikkan ke jaringan atau organ target dengan tujuan memperbaiki bagian yang rusak.
            Penggunaan sel punca untuk terapi telah dilakukan di banyak negara termasuk di antaranya China. Bahkan, di wilayah berpenduduk satu milyar lebih itu, terapi sel punca sudah menjadi salah satu layanan medis yang ditawarkan di rumah sakit. Fenomena ini agak berbeda dengan negara lain yang belum menempatkan terapi sel punca sebagai layanan medis. Di beberapa negara termasuk di Indonesia, pengobatan menggunakan terapi sel punca masih terbatas dalam skala penelitian. Peraturan mengenai terapi sel punca pun cukup ketat, mengingat faktor keamanan serta problem etika.
            Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang paling lazim setelah penyakit Alzheimer, dengan insidens di Inggris kira-kira 20/100.000 dan prevalensinya 100-160/100.000. Prevalensinya kira-kira 1 % pada umur 65 tahun dan meningkat 4-5% pada usia 85 tahun.
            Pengobatan penyakit Parkinson saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan memperlambat progresivitas penyakit. Tetapi selain gangguan motorik, penyakit Parkinson juga mengakibatkan  gejala non motorik seperti depresi dan penurunan kognitif, disamping terdapat efek terapi obat jangka panjang. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas hidup penderita penyakit Parkinson. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan.
            Bahkan para ahli menyatakan bahwa Stem Cell Therapy merupakan terapi terbaik untuk mengatasi penyakit degeneratif ini. Terapi sel hidup memiliki efek jangka panjang karena terapi sel mampu menstimulasi kemampuan tubuh untuk meregenerasi sel-sel dan melakukan penyembuhan terhadap diri sendiri serta memperkuat proses penyembuhan. Terapi sel hidup juga digunakan hampir di seluruh peradaban dan budaya semenjak manusia dilahirkan. Dengan mengkonsumsi sel hidup, baik manusia maupun hewan akan memperoleh manfaat fisik. Semua terapi ini dirancang untuk meningkatkan jumlah dopamin di otak baik dengan mengganti dopamin, meniru dopamin, atau memperpanjang efek dopamin dengan menghambat kerusakan tersebut. Penelitian telah menunjukkan bahwa terapi awal pada tahap non-motor dapat menunda timbulnya gejala motor, sehingga memperpanjang kualitas hidup.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Sel Punca
a. Pengertian Sel Punca
          Sel punca adalah sel yang belum berdiferensiasi yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi satu dari sekitar 200 jenis sel di dalam tubuh, meliputi sel darah, sel saraf, sel otot, dan sel kulit. Sebagian sel punca dapat dipicu untuk berkembang menjadi sel jenis apa pun di dalam tubuh. Sel-sel punca lainnya telah berdiferensiasi sebagian sehingga hanya dapat berkembang menjadi suatu jenis sel tertentu saja, misalnya sel saraf. Sel-sel punca membelah, menghasilkan lebih banyak sel-sel punca, sampai kemudian sel-sel ini dipicu untuk berkembang menjadi suatu sel yang lebih spesifik. Sel-sel ini akan terus membelah, menjadi semakin spesifik, hingga pada akhirnya sel-sel ini hanya dapat berkembang menjadi satu jenis sel tertentu saja. Para peneliti berharap untuk dapat menggunakan sel-sel punca untuk memperbaiki atau menggantikan sel-sel atau jaringan yang rusak atau hancur (Svendsen dan Ebert, 2008).
Sel punca terbukti secara klinis dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sel punca dapat memperbanyak diri secara terus-menerus dan dapat disesuaikan atau dikendalikan dengan kebutuhan yang ada. Sel punca (stem cells) dapat memperbarui sel-sel tubuh yang rusak. Sayangnya, sel punca akan berkurang seiring bertambahnya usia. Anak kecil yang terluka akan lebih mudah sembuh daripada orang dewasa yang terluka. Sumber stem cells ada di semua organ tubuh, tidak hanya di tali pusar. Ada stem cells kulit, stem cells sum-sum tulang belakang, dan stem cells lemak (Marzili, 2007).
Sel punca juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan hidup organisme. Saat sel punca terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk tetap menjadi sel punca atau menjadi sel dari jenis lain dengan fungsi yang lebih khusus, misalnya sel otot, sel jantung, sel hati, sel darah merah atau sel otak (Boenjamin, 2006).
Sel punca memiliki dua sifat penting yang sangat berbeda dengan sel yang lain, pertama sel punca belum merupakan sel dengan spesialisasi fungsi tetapi dapat memperbarui diri dengan pembelahan sel bahkan setelah tidak aktif dalam waktu yang panjang. Kedua, dalam situasi tertentu, sel punca dapat diinduksi untuk menjadi sel dengan fungsi tertentu seperti sel jaringan maupun sel organ yang mempunyai tugas tersendiri. Pada sumsusm tulang dan darah tali pusat (umbilical cord blood = UCB), sel punca secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak. Meski demikian, pada organ lain seperti pakreas atau hatii, pembelahan hanya terjadi dalam kondisi tertentu (Boenjamin, 2006).
Terapi sel punca bertujuan untuk membangunkan sel-sel tidak aktif di dalam tubuh manusia, sehingga merangsang pertumbuhan dan fungsi yang sudah ada jaringan dan perbaikan atau regenerasi sel-sel tua dan rusak. Terapi seluler menawarkan apa vitamin, mineral dan perawatan konvensional atau alam lainnya tidak bisa. Hal ini dapat menyediakan komponen yang tepat diperlukan untuk jaringan yang terluka atau sakit untuk menyembuhkan dan regenerasi. Sementara sebagian besar obat farmasi bekerja dengan menekan gejala tertentu selama waktu singkat dan hanya untuk selama mereka diambil, Terapi sel penyembuhan merangsang sel tubuh sendiri dan kekuatan merevitalisasi dan memberikan sebuah efek jangka panjang (Brunner dan Suddarth, 2002).
Terapi sel menawarkan kesempatan untuk mengobati banyak penyakit degeneratif yang disebabkan oleh kematian sel prematur atau kerusakan jenis sel tertentu dan kegagalan tubuh untuk mengganti atau memulihkan mereka. Saat ini, pemulihan lengkap dari malfungsi atau kegagalan organ membutuhkan operasi transplantasi. Dalam kebanyakan kasus, penyakit degeneratif dapat disembuhkan biasanya diperlakukan dengan mengatasi gejala, atau menunda suatu timbulnya degenerasi lebih lanjut (Brunner dan Suddarth, 2002).
b. Fungsi Sel Punca
Ada dua kegunaan stem cell (sel punca) yaitu berdasarkan fungsinya dan riset. Fungsi setelah diaktifkannya stem cell dalam tubuh adalah sebagai berikut:
1) Menambah jumlah peredaran darah dan mempercepat mikro sirkulasi darah sehingga bagi pasien yang stroke, tekanan darah tinggi, leukimia, dan cuci darah akan sembuh.
2) Menambah oksigen dalam darah dan sel sehingga dapat mematikan virus dan  bakteri.
3)  Mempercepat transportasi nutrisi ke seluruh tubuh.
4) Mempercepat pembersihan dalam tubuh manusia sehingga pasien setelah diterapi stemcell akan lancar buang air besar dan air kecil.
5)  Mempercepat metabolisme tubuh.
6)  Menambah kinerja sel badan (Abunda, 2012).
Sedangkan peran stemcell dalam riset adalah sebagai berikut:
1) Terapi gen, sebagai alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien dan selanjutnya dapat dilacak jejaknya apakah stem cell ini berhasil mengekspresikan gen tertentu dalam tubuh pasien.
2) Mengetahui proses biologis yaitu perkembangan organisme dan  perkembangan kanker. Melalui stemcell dapat dipelajari perkembangan sel  baik sel normal maupun sel kanker.
3) Penemuan dan pengembangan obat baru yaitu untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai jaringan.
4) Terapi sel berupa replacement therapy, Oleh karena stem cell dapat hidup di luar organ tubuh manusia misalnya di cawan petri maka dapat dilakukan manipulasi terhadap stemcell itu tanpa mengganggu organ tubuh manusia (Abunda, 2012).


c. Letak Sel Punca
Sel punca dewasa dapat diambil dari berbagai sumber seperti:
1) Otak mempunyai sel punca yang dapat diubah menjadi berbagai jenis sel darah seperti sel mieloid, sel limfoid, dan juga sel hematopoietik.
2) Sumsum tulang belakang merupakan sumber sel punca dewasa paling umum yang menghasilkan sel punca hematopoietik. Sel punca jenis ini telah digunakan secara ekstensif untuk transplantasi sumsum tulang  belakang dalam pengobatan kanker darah seperti leukemia. Selain itu  juga dapat digunakan untuk memperbaiki otot  jantung yang rusak dengan cara menginjeksi mereka ke daerah yang rusak untuk membentuk  pembuluh baru dan meningkatkan kapasitas fungsional jantung.
3) Darah tepi atau darah yang mengalir pada pembuluh darah diketahui memiliki sel punca yang berperan dalam pembentukan sel darah(hematopoiesis). Selain itu, sel punca dari darah manusia dapat  berdiferensiasi menjadi sel hati, saluran pencernaan, dan kulit.
4)  Pembuluh darah.
5) Saluran pencernaan memiliki sel punca tepatnya pada bagian epitel usus untuk mendukung pergantian terus-menerus dari sel-sel epitel usus. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah mengidentifikasi niche atau relung dari sel punca tersebut karena jawabannya akan memberi petunjuk mengapa beberapa pasien yang terinfeksi Helicbacter pylori dapat terkena tukak lambung sementara sebagian besar orang yang memiliki  H.  Pylori pada lambungnya tidak terkena tukak lambung, kemungkinan sel  punca berperan dalam hal tersebut.
6)  Kornea
7)  Hati
8)  Pankreas (Marzili, 2007).




2. Sindrom Parkinson
a. Definisi 
          Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif, merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga. Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun 1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan pergerakan. Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita diantaranya resting tremor, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Tanda-tanda motorik tersebut merupakan akibat dari degenerasi neuron dopaminergik pada system nigrostriatal. Namun, derajat keparahan defisit motorik tersebut beragam. Tanda-tanda motorik pasien sering disertai depresi, disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan disfungsi autonom (Agoes dkk; 2010).
          Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan wanita seimbang. 5 – 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65 tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh dunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 60 – 64 tahun sampai 3,5 % pada usia 85 – 89 tahun. Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur (Agoes dkk; 2010).
          Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan. Otot-otot kecil di tangan seringkali mengalami gangguan, sehingga pekerjaan sehari -hari (misalnya mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu) semakin sulit dilakukan. Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam melangkah dan seringkali berjalan tertatih-tatih dimana lengannya tidak berayun sesuai dengan langkahnya. Jika penderita Penyakit Parkinson sudah mulai berjalan, mereka mengalami kesulitan untuk berhenti atau berbalik. Langkahnya bertambah cepat sehingga mendorong mereka untuk berlari kecil supaya tidak terjatuh. Sikap tubuhnya menjadi bungkuk dan sulit mempertahankan keseimbangan sehingga cenderung jatuh ke depan atau ke belakang. Wajah penderita Penyakit Parkinson menjadi kurang ekspresif  karena otot-otot wajah untuk membentuk ekspresi tidak bergerak. Kadang berkurangnya ekspresi wajah ini disalah artikan sebagai depresi, walaupun memang banyak penderita Penyakit Parkinson yang akhirnya mengalami depresi (Agoes dkk; 2010).
b. Penyebab Penyakit Parkinson
          Beberapa hal yang diduga bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut:
1) Usia : Hal ini berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia nigra, pada penyakit parkinson (Agoes dkk; 2010).
2) Geografi : Faktor resiko yang mempengaruhi perbedaan angka secara geografis ini termasuk adanya perbedaaan genetik, kekebalan terhadap penyakit dan paparan terhadap faktor lingkungan (Agoes dkk; 2010).
3) Periode : Fluktuasi jumlah penderita penyakit parkinson tiap periode mungkin berhubungan dengan hasil pemaparan lingkungan yang episodik, misalnya proses infeksi, industrialisasi ataupn gaya hidup. Data dari Mayo Klinik di Minessota, tidak terjadi perubahan besar pada angka morbiditas antara tahun 1935 sampai tahun 1990. Hal ini mungkin karena faktor lingkungan secara relatif kurang berpengaruh terhadap timbulnya penyakit parkinson (Agoes dkk; 2010).
4) Genetik : Penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik yang berperan pada penyakit parkinson. Yaitu mutasi pada gen a-sinuklein pada lengan panjang kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan Parkinsonism autosomal dominan. Pada pasien dengan autosomal resesif parkinson, ditemukan delesi dan mutasi point pada gen parkin (PARK2) di kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya disfungsi mitokondria. Adanya riwayat penyakit parkinson pada keluarga meningakatkan faktor resiko menderita penyakit parkinson sebesar 8,8 kali pada usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada usia relatif muda (Agoes dkk; 2010).
5) Faktor Lingkungan
    a) Xenobiotik
          Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat menmbulkan      kerusakan    mitokondria.
b) Pekerjaan
          Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan lama.
c) Infeksi
Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadi faktor predesposisi penyakit parkinson melalui kerusakan substansia nigra. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh infeksi Nocardia astroides.
d) Diet
Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit parkinson. Sebaliknya,kopi merupakan neuroprotektif.
e)  Trauma kepala
Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit parkinson, meski peranannya masih belum jelas benar.

f)  Stress dan depresi
Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik. Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit parkinson karena pada stress dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress oksidatif (Agoes dkk; 2010).
c. Gejala klinis Penyakit Parkinson
          Meskipun gejala yang disampaikan di bawah ini bukan hanya milik penderita parkinson, umumnya penderita parkinson mengalami hal itu.
1) Gejala Motorik
a)  Tremor/bergetar
         Gejala penyakit parkinson sering luput dari pandangan awam, dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang tua. Salah satu ciri khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga sewaktu tidur. Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar pada sendi metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang logam atau memulung-mulung (pil rolling) (Husni, 2002).
         Tremor tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada kelopak mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang menghitung uang). Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan, kepala penderita bisa bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas (tanpa sadar). Artinya, jika disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat penyakit, tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi (Husni, 2002).
b)  Rigiditas/kekakuan
         Tanda yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan tangan yang tremor tersebut digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu pada pergelangan tangan, terasa ada tahanan seperti melewati suatu roda yang bergigi sehingga gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-putus. Selain di tangan maupun di kaki, kekakuan itu bisa juga terjadi di leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus lagi seperti break-dance. Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan dengan postur yang membungkuk. Untuk mempertahankan pusat gravitasinya agar tidak jatuh, langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-pendek (Husni, 2002).
c)  Akinesia/Bradikinesia
Gerakan volunter menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut (Husni, 2002).
d)  Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk Melangkah
e)  Mikrografia
Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini (Husni, 2002).
f)   Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson)
Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat (marche a petit pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan (Husni, 2002).
g) Bicara monoton
Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat (Husni, 2002).

h)  Dimensia
Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan deficit kognitif (Husni, 2002).
i)   Gangguan behavioral
Lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup (Husni, 2002).
j)   Gejala Lain
Kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya (tanda Myerson positif) (Husni, 2002).
2. Gejala non motorik
a) Disfungsi otonom
Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama     inkontinensia dan hipotensi ortostatik, kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic, pengeluaran urin yang banyak, gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat seksual, perilaku, orgasme (Husni, 2002).
b) Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi
     c) Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat
d)  Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia)
e)  Gangguan sensasi
Kepekaan kontras visual lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaan warna. Penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan oleh hypotension orthostatic, suatu kegagalan sistem saraf otonom untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi badan. Berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau ( microsmia atau anosmia) (Husni, 2002).


d. Patofisiologi
          Penyakit Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang mengakibatkan kematian sel terutama pada  daerah substantia nigra. Gejala penyakit Parkinson baru akan muncul bila kerusakan sel  neuron dopaminergik telah mencapai 80 % dari substantia nigra. Walaupun keadaan inilah yang sangat mempengaruhi keadaan penyakit Parkinson, tetapi ditemukan juga kerusakan sel neuron di tempat lain seperti noradrenergik di locus cureleus, dopaminergik di ventral tegmentum, thalamus, hipothalamus, serotonergik di raphe nukleus. Kerusakan sel neuron ini akan mengakibatkan gejala yang sesuai dengan kekurangan neurotransmiter yang seharusnya diproduksi. Pada penyakit Parkinson selain kekurangan neurotransmiter dopamin ditemukan pula penurunan neurotansmiter noradrenalin dan serotonin (Ganong dan  Mcphee, 2011).
          Kekurangan neurotransmiter dopamin akan mengakibatkan gangguan terutama pada jaras dopaminergik. Terdapat tiga jaras dopaminergik yang utama yaitu jalur nigrostriatal,  mesolimbik dan mesokortikal. Pada jalur nigrostriatal merupakan jalur yang berfungsi sistem motorik, sedangkan jalur mesolimbik dan mesokortikal merupakan jalur yang berfungsi penghargaan(reward), penguatan (reinforcement), motivasi, perhatian dan kendali perilaku (behavior). Hal tersebut  akan mempengaruhi fungsi motorik dan akan menimbulkan gejala disabilitas dan pada efek samping obat anti parkinson akan terjadi diskinesia. Sedangkan jalur mesolimbik dan mesokortikal kekurangan dopamin akan mengakibatkan gangguan kognitif dan psikologis (Ganong dan  Mcphee, 2011).
          Kekurangan neurotransmiter noradrenalin akan berpengaruh pada jaras noradrenergik yaitu pontine locus coeruleus dan lateral tegmental nuclei. Kedua jaras ini secara bersama-sama mengatur fungsi kognisi, motivasi, memori, emosi dan respon endokrin. Walaupun belum dapat dibuktikan secara pasti, beberapa peneliti menduga hilangnya neuron noradrenergik berakibat timbulnya gejala depresi dan gangguan kognitif pada penderita Parkinson (Ganong dan  Mcphee, 2011).
Sedangkan penurunan jumlah serotonin akan mengakibatkan keadaan depresi. Hal ini didukung pada pemberian obat yang menghambat pengambilan kembali serotonin (SSRIs), didapat respon perbaikan depresi yang relatif cepat. Dari penjelasan diatas dapat dirangkumkan bahwa penyakit Parkinson yang ditandai dengan hilangnya neuron dopaminergik pada substansia nigra, disertai neuron serotonergik dan  noradrenergik, akan mengakibatkan deplesi neurotransmiter dopamin, serotonin dan noradrenalin, yang selanjutnya mendasari timbulnya gejala klinik disabilitas, depresi, gangguan kognisi. Hal ini pada akhirnya diduga akan mempengaruhi kualitas hidup  penderita Parkinson disamping faktor umur, budaya, dan dukungan sosial (Ganong dan Mcphee, 2011).
          Patofisiologi depresi pada penyakit Parkinson sampai saat ini belum diketahui pasti. Namun teoritis diduga hal ini berhubungan dengan defisiensi serotonin, dopamin dan noradrenalin. Pada penyakit Parkinson terjadi degenerasi sel-sel neuron yang meliputi berbagai inti subkortikal termasuk di antaranya substansia nigra, area ventral tegmental, nukleus basalis, hipotalamus, pedunkulus pontin, nukleus raphe dorsal, locus cereleus, nucleus central pontine dan ganglia otonomik (Ganong dan Mcphee, 2011).

Text Box: Gambar 1. Substansia Nigra pada penyakit parkinson        http://nasehatkesehatan.com/wp-content/uploads/2014/03/DIAGRAM-OTAK-PENYAKIT-PARKINSON-PP-2-1.jpg
BAB III
METODE TERAPI PARKINSON
A. Terapi Parkinson menggunakan Prinsip Pengobatan Stem Cell
          Regenerasi pada sel punca merupakan suatu kemampuan untuk membelah dan menghasilkan lebih banyak sel-sel punca. Sel-sel ini kemudian akan terus membelah, menjadi sel-sel yang lebih spesifik, sampai akhirnya menjadi sel yang hanya dapat berkembang menjadi satu jenis sel tertentu saja. Para peneliti berharap dapat menggunakan sel punca untuk memperbaiki atau menggantikan sel-sel atau jaringan yang rusak. Transplantasi sel punca dapat digunakan sebagai pengobatan kelainan darah, misalnya leukemia, anemia aplastik, thalasemia, anemia sel sabit, dan beberapa kelainan imunodefisiensi. Sel punca jenis tertentu juga dapat digunakan untuk transplantasi pada orang-orang dengan kerusakan sumsum tulang akibat kemoterapi dosis tinggi atau terapi radiasi yang digunakan untuk mengobati kanker. Transplantasi sel punca diharapkan suatu hari nanti akan berguna untuk mengobati berbagai penyakit, seperti penyakit Parkinson dan Alzheimer, dimana sel-sel punca yang ditransplantasi dapat menjadi sel-sel otak (Lawrence, 2010).
          Prinsip pengobatan stem cell sendiri untuk Parkinson yaitu setelah stem cell masuk pada lesi pasien melalui injeksi arteri, dapat memperbaharui dan memulihkan substantia nigra (sel hitam), mengembalikan kadar neurotransmitter, memperbaiki gejala kegetaran, kekakuan, pergerakan yang lamban, hingga mencapai target pengobatan. Terapi stem cell dapat mengobati penyakit parkinson idiopatik, parkinson sekunder, sistem sindrom degenerasi parkinson dan ditambah sindrom parkinson lainnya. Stem cell sangat efektif untuk pengobatan parkinson pada stadium I, II, III, IV, V (Nakamura, 2008).
         
                                                                                Sumber : www.csa.com
Gambar 2.  Mekanisme Transplantasi Stem Cell Pada Penyakit Parkinson
Salah satu sumber alternatif sel untuk mengobati penyakit Parkinson adalah menggunakan sel punca dewasa yang berasal dari sumsum tulang belakang untuk menggantikan sel-sel neuron (saraf) otak yang rusak. Sumsum tulang belakang merupakan sumber sel punca dewasa paling umum yang menghasilkan sel punca hematopoietik. Sel punca jenis ini telah digunakan secara ekstensif untuk transplantasi sumsum tulang belakang dalam pengobatan kanker darah seperti leukemia. Selain itu juga dapat digunakan untuk memperbaiki otot jantung yang rusak dengan cara menginjeksi mereka ke daerah yang rusak untuk membentuk pembuluh baru dan meningkatkan kapasitas fungsional jantung (Nakamura, 2008).
Salah satu sifat sel punca dewasa adalah mereka dapat diambil dan ditransplantasikan dari individu yang sama sehingga terapi imunosupresi (penekanan sistem imun) dapat dihindari. Berbeda halnya dengan sel punca dari sumber lain yang masih membutuhkan terapi imunosupresi (penekanan sistem imun) untuk menghindari reaksi penolakan dan intoleransi sistem imun akibat dari ketidakcocokkan antara jaringan donor dengan jaringan resipien (Nakamura, 2008).
Pada penyakit Parkinson, didapatkan kematian neuron-neuron nigra-striatal, yang merupakan neuron dopaminergik. Dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam gerakan tubuh yang halus. Dengan berkurangnya dopamin, maka pada penyakit Parkinson terjadi gejala-gejala gangguan gerakan halus. Dalam hal ini transplantasi neuron dopamin diharapkan dapat memperbaiki gejala penyakit Parkinson. Tahun 2001, dilakukan penelitian dengan menggunakan  jaringan mesensefalik embrio manusia yang mengandung neuron-neuron dopamin. Jaringan tersebut ditransplantasikan ke dalam otak penderita Parkinson berat dan dipantau dengan alat PET (Positron Emission Tomography). Hasilnya setelah transplantasi terdapat perbaikan dalam uji-uji standar untuk menilai penyakit Parkinson, peningkatan fungsi neuron dopamin yang tampak pada pemeriksaan PET; perbaikan  bermakna ini tampak pada penderita yang lebih muda. Namun setelah 1 tahun, 15% dari pasien yang ditransplantasi ini kambuh setelah dosis levodopa dikurangi atau dihentikan (Nakamura, 2008).
Dengan terapi Stem cell dapat hidup diluar tubuh manusia, misalnya di cawan Petri. Sifat ini dapat digunakan untuk melakukan manipulasi pada stem cells yang akan ditransplantasikan ke dalam organ tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu tanpa mengganggu organ tubuh. Pada keadaan ini stem cell setelah dimanipulasi dapat ditransplantasi ke dalam tubuh pasien agar stem cell   tersebut dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel organ tertentu yang menggantikan sel-sel yang telah rusak atau mati akibat penyakit degeneratif (Dittmar dan Zanker, 2009).
          Sel punca dapat berasal dari sel orang itu sendiri (transplantasi autologus) atau dari donor (transplantasi allogenic). Jika sel punca diambil dari orang itu sendiri, maka sel-sel tersebut harus diambil sebelum dilakukan kemoterapi atau terapi radiasi karena tindakan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada sel punca. Sel punca akan dimasukkan kembali pada tubuh orang tersebut setelah pengobatan selesai (Nakamura, 2008).
             Sumber : www.csa.com
Gambar 3. Transplantasi stem cell dalam pencangkokan sumsum tulang belakang
          Sel punca untuk sel darah bisa diperoleh dari sumsum tulang atau, dalam jumlah kecil, dari darah. Pencangkokkan sumsum tulang adalah salah satu jenis pencangkokkan sel punca, karena sumsum tulang mengandung sel punca yang menghasilkan lebih banyak sel darah. Untuk transplantasi sumsum tulang, pendonor akan diberikan anestesi (bius) umum terlebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan sumsum tulang dari tulang pinggul donor (Marzili, 2007).
          Terkadang sel punca orang dewasa diambil dari dalam darah. Pertama-tama seorang donor akan diberikan obat yang membuat sumsum tulang melepaskan sel-sel punca lebih banyak ke dalam aliran darah. Kemudian darah akan diambil dan dialirkan ke sebuah mesin yang akan memisahkan sel-sel punca. Biasanya diperlukan 6 kali 2-4 jam pertemuan dengan periode 1-2 minggu untuk mendapatkan sel punca yang cukup. Sel-sel tersebut kemudian dapat disimpan dengan dibekukan untuk dipakai jika diperlukan kemudian (Marzili, 2007).
          Sel punca yang diperoleh kemudian disuntikkan ke pembuluh darah resipien (penerima). Sel-sel punca yang telah masuk ke tubuh resipien akan bermigrasi dan mulai bermultiplikasi pada tulang dan menghasilkan sel-sel darah. Transplantasi sel punca pada pasien-pasien post kemoterapi atau terapi radiasi memiliki risiko untuk terjadinya infeksi. Hal ini disebabkan oleh sel-sel darah putih yang rusak atau berkurang jumlahnya akibat kemoterapi atau terapi radiasi. Dengan demikian, risiko terjadinya infeksi sangat tinggi, terutama pada 2-3 minggu pertama sesudah transplantasi, sampai sel-sel punca yang didonorkan dapat menghasilkan sel-sel darah putih yang cukup untuk mencegah infeksi (Marzili, 2007).
          Risiko lain yang dapat terjadi adalah graft versus host disease. Hal ini terjadi karena sumsum tulang baru yang berasal dari donor bisa menghasilkan sel-sel yang dapat menyerang sel-sel resipien. Risiko terjadinya infeksi dapat dikurangi dengan menempatkan resipien pada ruangan isolasi untuk periode waktu tertentu, sampai sel-sel yang ditransplantasikan dapat menghasilkan sel-sel darah putih. Setiap orang yang akan memasuki ruang isolasi harung menggunakan masker dan baju khusus, serta telah mencuci tangan dengan cermat terlebih dahulu. Antibodi dari darah donor dapat diberikan pada resipien untuk membantu melindungi terhadap infeksi. Faktor-faktor pertumbuhan, yang dapat menstimulasi produksi sel-sel darah, dapat membantu untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi dan graft versus host disease (Marzili, 2007).
          Resipien (penerima) transplantasi sel punca biasanya perlu menjalani rawat inap di rumah sakit selama 1-2 bulan, Setelah meninggalkan rumah sakit, resipien juga perlu untuk memeriksakan dirinya secara teratur. Kebanyakan penderita memerlukan waktu minimal 1 tahun untuk dapat pulih kembali (Marzili, 2007).
          Pengobatan hanya bersifat simtomatis, karena sel-sel otak yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi dan progres penyakit pun tidak bisa dihentikan. Terapi diarahkan pada pemulihan kembali dari keseimbangan hormon yang terganggu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi Ach dengan antikolinergika, atau dengan cara meningkatkan jumlah dopamine dengan dopaminergika. Tujuan akhir dari terapi ini, di samping memungkinkan penderita berfungsi seoptimal mungkin, adalah untuk mengurangi atau memperlambat komplikasi-komplikasi jangka panjang yang sukar ditanggulangi (Marzili, 2007).
B. Hasil Penelitian Mengenai Cell-Based Therapy
Ada beberapa alasan penelitian mengapa stem cell merupakan calon yang bagus dalam cell-based therapy:
1. Stem cell tersebut dapat diperoleh dari pasien itu sendiri. Artinya transplantasi dapat bersifat autolog sehingga menghindari potensi rejeksi. Berbeda dengan transplantasi organ yang membutuhkan organ donor yang sesuai (match), transplantasi stem cell dapat dilakukan tanpa organ donor yang sesuai.
2. Mempunyai kapasitas proliferasi yang besar sehingga dapat diperoleh sel dalam jumlah besar dari sumber yang terbatas. Misalnya pada luka bakar luas, jaringan kulit yang tersisa tidak cukup untuk menutupi lesi luka  bakar yang luas. Dalam hal ini terapi stem cell sangat berguna.
3. Mudah dimanipulasi untuk mengganti gen yang sudah tidak berfungsi lagi melalui metode transfer gen.
4. Dapat bermigrasi ke jaringan target dan dapat berintegrasi ke dalam  jaringan dan berinteraksi dengan jaringan sekitarnya (Nakamura, 2008).
C. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Stem Cell Dewasa (Adult Stem Cell) untuk Terapi Parkinson
1. Keuntungan adult stem cell:
a) Dapat diambil dari sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan imun.
b)  Sudah terspesialisasi sehingga induksi menjadi lebih sederhana.
c)  Secara etis tidak ada masalah (Nakamura, 2008).


2.  Kerugian adult stem cell:
a) Jumlahnya sedikit, sangat jarang ditemukan pada jaringan matur sehingga sulit mendapatkan adult stem cell dalam jumlah banyak.
b)    Masa hidupnya tidak selama embryonic stem cell.
c)  Bersifat multipoten, sehingga diferensiasi tidak seluas embryonic stem  cell yang bersifat pluripoten (Nakamura, 2008).
D. Kelebihan Metode Terapi Stem Cell
     1. Sangat efektif
       Professor di pusat penelitian kesehatan dan pengontrolan penyakit, Inggris Warwickshire County pengendalian penyakit Andorha dan rehabilitasi pusat penelitian Profesor, Peneliti Senior, Sylvana, 28 kota London, Manchester, Roma, Montreal, Vienna, 21.000 kasus transplantasistemcell saraf dalam pengobatan statistik bedah penyakit Parkinson, menemukan bahwa setelah operasi hampir 79% pasien mengalami perbaikan yang signifikan dalam 63,2% pasien dengan tidak kambuh dalam lima tahun. Umumnya setelah melakukan 2 tahap pengobatan, pasien akan merasa pulih, gejala gemetar pada tangan dan kaki pun membaik. Setelah pengobatan, pasien dapat melakukan aktifitas ringan, misalnya menulis, mengikat tali sepatu, menyikat gigi, dll (Boenjamin, 2006).
2. Keamanannya terjamin
                 Metode stem cell tidak mempunyai efek samping, sangat sedikit terjadi penolakan dari tubuh, operasi mengambil teknologi minimal invasive, tidak ada pembedahan, tidak ada rasa sakit, dan efek nya dapat dilihat dengan cepat (Boenjamin, 2006).
                 Metode obat-obatan termasuk pengobatan konservatif. Penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan penyakitnya lebih lama, tetapi juga dapat menambah beban yang harus ditanggung oleh ginjal pasien. Metode operasi dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak darah, penyebaran luka, kelumpuhan pada anggota badan, penolakan dari tubuh dan risiko lainnya (Boenjamin, 2006).
3.  Sumber yang banyak dan jangkauan yang luas
                 Sel induk dewasa umumnya ditemukan di sebagian besar jaringan dan organ dalam tubuh, terutama berasal dari sel induk pada sumsum tulang, sel induk pada darah perifer, sel induk pada tali pusat, dsb. Terapi Stem cell dapat mengobati Penyakit Parkinson idiopatik, parkinson sekunder, sistem sindrom degenerasi Parkinson dan ditambah sindrom Parkinson lainnya. Stem cell sangat efektif untuk pengobatan Parkinson pada stadium I, II, III, IV, V. Pengobatan dengan obat-obatan hanya dapat mengobati Parkinson pada tahap-tahap tertentu. Metode operasi, adalah salah satu metode pengobatan yang terpaksa diambil untuk pengobatan penyakit Parkinson yang sudah parah (Boenjamin, 2006).
E. Terapi Parkinson dengan Terapi Obat
Pengobatan penyakit parkinson bersifat individual dan simtomatik, obat-obatan yang biasa diberikan adalah untuk pengobatan penyakit atau menggantikan atau meniru dopamin yang akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.
Ada beberapa terapi yang digunakan untuk pengobatan penyakit Parkinson, diantaranya:
a.  Antikolinergik
     Benzotropine (Cogentin), trihexyphenidyl (Artane). Berguna untuk mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Untuk mengaluskan pergerakan (Nakamura, 2008).
b. Carbidopa/levodopa
Levodopa merupakan pengobatan utama untuk penyakit parkinson. Di dalam otak levodopa dirubah menjadi dopamine. L-dopa akan diubah menjadi dopamine pada neuron dopaminergik oleh L-aromatik asam amino dekarboksilase (dopa dekarboksilase). Walaupun demikian, hanya 1-5% dari L-Dopa memasuki neuron dopaminergik, sisanya dimetabolisme di sembarang tempat, mengakibatkan efek samping yang luas. Karena mekanisme feedback, akan terjadi inhibisi pembentukan L-Dopa endogen. Carbidopa dan benserazide adalah dopa dekarboksilase inhibitor, membantu mencegah metabolisme L-Dopa sebelum mencapai neuron dopaminergik (Nakamura, 2008).
Levodopa mengurangi tremor, kekakuan otot dan memperbaiki gerakan. Penderita penyakit parkinson ringan bisa kembali menjalani aktivitasnya secara normal. Obat ini diberikan bersama carbidopa untuk meningkatkan efektivitasnya & mengurangi efek sampingnya. Sejak diperkenalkan akhir tahun 1960an, levodopa dianggap merupakan obat yang paling banyak dipakai sampai saat ini. Levodopa dianggap merupakan tulang punggung pengobatan penyakit parkinson. Berkat levodopa, seorang penderita parkinson dapat kembali beraktivitas secara normal (Nakamura, 2008).
Banyak dokter menunda pengobatan simtomatis dengan levodopa sampai memang dibutuhkan. Bila gejala pasien masih ringan dan tidak mengganggu, sebaiknya terapi dengan levodopa jangan dilakukan. Hal ini mengingat bahwa efektifitas levodopa berkaitan dengan lama waktu pemakaiannya. Levodopa melintasi sawar-darah-otak dan memasuki susunan saraf pusat dan mengalami perubahan ensimatik menjadi dopamin. Dopamin menghambat aktifitas neuron di ganglia basal (Nakamura, 2008).
Levodopa adalah prekusor metabolik dopamin. Obat ini mengembalikan kadar dopamin dalam substansia nigra yang atrofik pada penyakit parkinson. Pada awal penyakit, jumlah neuron dopaminergik dalam substansia nigra (biasanya 20% dari normal) yang tersisa, cukup untuk konversi levodopa ke dopamin. Dengan demikian, pada pasien baru respon terapi terhadap levodopa konsisten dan pasien jarang mengeluh bahwa efek obat mengecil. Namun, semakin lama jumlah neuron dan sel-sel yang mampu mengambil levodopa yang diberikan semakin berkurang, semakin sedikit pula yang mampu mengubahnya menjadi dopamin untuk disimpan atau dikeluarkan lebih lanjut. Akibatnya terjadi fluktuasi dalam pengendalian motorik. Efek levodopa dalam SSP dapat diperkuat oleh pemberian bersama carbidopa, suatu inhibitor dekarboksilase dopamin yang tidak menembus sawar otak darah. Carbidopa mengurangi metabolisme levodopa dalam saluran pencernaan dan jaringan perifer sehingga dapat meningkatkan ketersediaan levodopa di SSP. Carbidopa menurunkan dosis levodopa yang diperlukan sampai 4-5 kali dan menurunkan efek samping dopamin yang terbentuk di perifer. Kesembuhan dengan levodopa hanya bersifat simtomatik dan berlangsung selama obat berada dalam tubuh (Nakamura, 2008).
Penambahan karbidopa dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas levodopa di dalam otak dan untuk mengurangi efek levodopa yang tidak diinginkan di luar otak. Mengkonsumsi levodopa selama bertahun-tahun bisa menyebabkan timbulnya gerakan lidah dan bibir yang tidak dikehendakik, wajah menyeringai, kepala mengangguk-angguk dan lengan serta tungkai berputar-putar. Beberapa ahli percaya bahwa menambahkan atau mengganti levodopa dengan bromokriptin selama tahun-tahun pertama pengobatan bisa menunda munculnya gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki. Sel-sel saraf penghasil dopamin dari jaringan janin manusia yang dicangkokkan ke dalam otak penderita Parkinson bisa memperbaiki kelainan kimia tetapi belum cukup data mengenai tindakan ini (Nakamura, 2008).
c.  COMT inhibitors
Entacapone (Comtan), Tolcapone (Tasmar). Untuk mengontrol fluktuasi motor pada pasien yang menggunakan obat levodopa. Tolcapone adalah penghambat enzim COMT, memperpanjang efek L-Dopa. Tapi karena efek samping yang berlebihan seperti liver toksik, maka jarang digunakan. Jenis yang sama, entacapone, tidak menimbulkan penurunan fungsi liver (Nakamura, 2008).
d. Agonis dopamin
Agonis dopamin seperti bromokriptin (Parlodel), pergolid (Permax), pramipexol (Mirapex), ropinirol, kabergolin, apomorfin dan lisurid dianggap cukup efektif untuk mengobati gejala Parkinson. Obat ini bekerja dengan merangsang reseptor dopamin, akan tetapi obat ini juga menyebabkan penurunan reseptor dopamin secara progresif yang selanjutnya akan menimbulkan peningkatan gejala Parkinson. Obat ini dapat berguna untuk mengobati pasien yang pernah mengalami serangan yang berfluktuasi dan diskinesia sebagai akibat dari levodopa dosis tinggi. Apomorfin dapat diinjeksikan subkutan. Dosis rendah yang diberikan setiap hari dapat mengurangi fluktuasi gejala motorik (Nakamura, 2008).
e.  MAO-B inhibitors
Selegiline (Eldepryl), Rasagaline (Azilect). Inhibitor MAO diduga berguna pada penyakit Parkinson karena neuotransmisi dopamine dapat ditingkatkan dengan mencegah perusakannya. Selegiline dapat pula memperlambat memburuknya sindrom Parkinson, dengan demikian terapi levodopa dapat ditangguhkan selama beberapa waktu. Berguna untuk mengendalikan gejala dari penyakit parkinson. Yaitu untuk mengaluskan pergerakan (Nakamura, 2008).
Selegilin dan rasagilin mengurangi gejala dengan dengan menginhibisi monoamine oksidase B (MAO-B), sehingga menghambat perusakan dopamine yang dikeluarkan oleh neuron dopaminergik. Metabolitnya mengandung L-amphetamin and L-methamphetamin. Efek sampingnya adalah insomnia. Kombinasi dengan L-dopa dapat meningkatkan angka kematian, yang sampai saat ini tidak bisa diterangkan secara jelas. Efek lain dari kombinasi ini adalah stomatitis (Nakamura, 2008).
f.  Amantadine (Symmetrel)
Berguna untuk perawatan akinesia, dyskinesia, kekakuan, gemetaran (Nakamura, 2008).
g.  Inhibitor dopa dekarboksilasi dan levodopa
Untuk mencegah agar levodopa tidak diubah menjadi dopamin di luar otak, maka levodopa dikombinasikan dengan inhibitor enzim dopa dekarboksilase. Untuk maksud ini dapat digunakan karbidopa atau benserazide ( madopar ). Dopamin dan karbidopa tidak dapat menembus sawar-otak-darah. Dengan demikian lebih banyak levodopa yang dapat menembus sawar-otak-darah, untuk kemudian dikonversi menjadi dopamine di otak. Efek sampingnya umunya hampir sama dengan efek samping yang ditimbulkan oleh levodopa (Nakamura, 2008).
h.  Deep Brain Stimulation (DBS)
Pada tahun 1987, diperkenalkan pengobatan dengan cara memasukkan elektroda yang memancarkan impuls listrik frekuensi tinggi terus-menerus ke dalam otak. Terapi ini disebut deep brain stimulation (DBS). DBS adalah tindakan minimal invasif yang dioperasikan melalui panduan komputer dengan tingkat kerusakan minimal untuk mencangkokkan alat medis yang disebut neurostimulator untuk menghasilkan stimulasi elektrik pada wilayah target di dalam otak yang terlibat dalam pengendalian gerakan (Nakamura, 2008).
Terapi ini memberikan stimulasi elektrik rendah pada thalamus. Stimulasi ini digerakkan oleh alat medis implant yang menekan tremor. Terapi ini memberikan kemungkinan penekanan pada semua gejala dan efek samping, dokter menargetkan wilayah subthalamic nucleus (STN) dan globus pallidus(GP) sebagai wilayah stimulasi elektris. DBS direkomendasikan bagi pasien dengan penyakit parkinson tahap lanjut (stadium 3 atau 4) yang masih memberikan respon terhadap levodopa (Nakamura, 2008).












KESIMPULAN

Sel punca adalah sel yang belum berdiferensiasi yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi satu dari sekitar 200 jenis sel di dalam tubuh, meliputi sel darah, sel saraf, sel otot, dan sel kulit. Sel punca dapat diinduksi untuk menjadi sel dengan fungsi tertentu seperti sel jaringan maupun sel organ yang mempunyai tugas tersendiri. Pada sumsum tulang dan darah tali pusar, sel punca secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak, meski demikian pada organ lain seperti  pankreas atau hati, pembelahan hanya terjadi dalam kondisi tertentu. Sel punca berpontensi untuk mengubah keadaan penyakit pada manusia dengan cara memperbaiki jaringan atau organ tertentu.
            Penyakit Parkinson merupakan suatu gangguan yang disebabkan oleh kematian sekelompok sel-sel otak yang bekerja bersama neurotransmitter dopamin. Penyakit ini ada hubungannya dengan penurunan aktivitas inhibitor neuron dopaminergik dalam substansi nigra dan korpus stratum yaitu bagian dari sistem ganglia basalis otak yang berfungsi untuk mengatur gerakan. Banyak gejala Parkinson memperlihatkan ketidakseimbangan antara neuron eksitatif kolinergik dan neuron inhibitory dopaminergik yang menurun. Sehingga diperlukan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit Parkinson. Pengobatan penyakit Parkinson saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan memperlambat progresivitas penyakit. Tetapi selain gangguan motorik, penyakit Parkinson juga mengakibatkan  gejala non motorik seperti depresi dan penurunan kognitif, disamping terdapat efek terapi jangka panjang.
Terapi untuk penyakit Parkinson yang utama adalah dengan terapi stem cell. Prinsip pengobatan stem cell sendiri untuk Parkinson yaitu setelah stem cell masuk pada lesi pasien melalui injeksi arteri, dapat memperbaharui dan memulihkan substantia nigra (sel hitam), mengembalikan kadar neurotransmitter, memperbaiki gejala kegetaran, kekakuan, pergerakan yang lamban, hingga mencapai target pengobatan. Salah satu sumber alternatif sel untuk mengobati penyakit Parkinson adalah menggunakan sel punca dewasa yang berasal dari sumsum tulang belakang untuk menggantikan sel-sel neuron (saraf) otak yang rusak.
Selain terapi menggunakan stem cell, terapi obat yang paling efektif untuk penyakit Parkinson adalah levodopa (Sinemet), yang diubah menjadi dopamin di otak. Namun, karena pengobatan jangka panjang dengan levodopa dapat menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan (respon disingkat menjadi dosis masing-masing, kram menyakitkan, dan gerakan tak terkendali), penggunaannya sering ditunda sampai kerusakan motorik lebih parah. Levodopa sering diresepkan bersama dengan carbidopa (Sinemet), yang mencegah levodopa dari yang rusak sebelum mencapai otak. Oleh karena itu, terapi yang mampu mengatasi penyakit degeneratif seperti penyakit parkinson yaitu dengan terapi Stem cell khususnya dengan sel induk dewasa yang berasal dari sumsum tulang belakang dan dengan terapi obat khususnya levodopa yang paling efektif.


















DAFTAR PUSTAKA

Abunda 2012.  How-live-cell-therapy-works. Diakses 28 Maret 2014, (http://www.philstar.com/entertainment/2012-09-01/844191/doctor-how-live-cell-therapy-works).
Agoes, Azwar, dkk. 2010. Penyakit di Usia Tua Penyakit Parkinson. EGC, Jakarta.
Boenjamin, S 2006, Aplikasi Terapeutik Sel Stem Embrionik Pada Berbagai Penyakit Degeneratif, Cermin Dunia Kedokteran.
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. EGC, Jakarta.
Dittmar T, Z̈änker KS 2009. Stem Cell Biology in Health and Disease. Springer verlag, Dordrecht.
Ganong, William F., and Mcphee, Stephen J. 2011. Patofisiologi Penyakit  Edisi 5. EGC, Jakarta.
Husni, A 2002. Penyakit parkinson, patofisiologi, diagnosis dan wacana terapi. Disampaikan pada Temu Ilmiah Nasional I dan konferensi kerja III PERGEMI, Semarang.
Lawrence, S.B 2010. Stem Cells For Dummies. Wiley Publishing, Indianapolis, Indiana.
Marzili, A 2007. Stem Cell Research and Cloning. Chelsea House Publishers, New york.
Nakamura, K. 2008. Medical Management of Parkinson's Disease. Department of Neurology, University of California, San Francisco.
Svendsen, C & Ebert, AD 2008. Encyclopedia of Stem Cell Research. SAGE Publications, Los Angeles.